Laman

Sabtu, 06 Desember 2014

Pelangi Senja

Aku melihat pelangi, 
ia tampak di horizon sebelah timur.
Berkanvaskan langit mendung nan kelabu, 
warna warni pelangi itu tampak padu menyatu, indah.
Seketika berkelebat beberapa frasa soal pelangi, 
frasa pelangi setia menunggu hujan reda.
Juga beberapa frasa romantis lain.
Dan kemudian rerindang pohon menutup pandanganku dengan pelangi.
Ufuk sebelah barat, tak mau kalah langit cerah senja juga memamerkan pesonanya.
Langit masih cukup cerah memantulkan sinar mentari
Indah sekali sore itu.
Paduan hujan rintik, sedikit mendung, berhias pelangi di timur
Dan langit senja cerah di sisi lainnya
Tampak begitu harmoni, indah.
Bukan saling meniadakan.

Aku sudah selesai dengan diriku
Dengan rintik mendung dan pelangi
Juga cerah langit di seberang

Aku sudah selesai dengan diriku
Dengan harmoni berpadu
Bukan bertanding mengalahkan

Aku sudah selesai dengan diriku
Karena cinta bukan pertandingan

Aku sudah selesai dengan diriku

Sabtu, 6 Desember 2014
saat langit berganti nahkoda
menjadi purnama yang tak kalah eloknya
.maha.

Senin, 27 Oktober 2014

Memori Sunyi

Gaduh,
Tahun yang sangat gaduh
Begitu yang tampak didepanku
Begitu gaduhnya,
Hingga akupun bersembunyi
Tak tertarik lagi berjejaring maya
Aku ingat,
Masa ketika maya tak segaduh kini
Maya yang pernah menjadi tempat cengkrama
Bukan tempat saling hina
Aku ingat,
Masa yang lebih gaduh dari kini
Ketika sang penguasa jatuh dari tampuknya
Huruhara melanda penjuru negara
Namun aku tak merasakan gaduhnya
Ya, Tak terasa dan tak peduli
Ah iya, aku hanya anak kecil saat itu
Aku sibuk, sibuk bermain
Sibuk menjadi sesosok anak kecil
Yang jauh dari gaduhnya masa itu
Aku rindu,
Rindu menjadi anak kecil
Yang sibuk bermain belajar bermimpi
Polos tak mengerti dan tak peduli
Dengan gaduh bisingnya orang dewasa
Ya,
Aku ingat masa itu,
Aku rindu masa itu.

271014
di pinggiran kegaduhan
.maha.

Senin, 20 Oktober 2014

Memaknai Hari Lahir

Hari lahir, umumnya ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh setiap mereka yang telah terlahir. Berbagai pesta, mulai dari pesta mewah hingga yang sekedarnya tak jarang dihelat untuk merayakan momen hari lahir tiap tahunnya. Untaian kata selamat dan doa juga bertubi-tubi di ucapkan oleh rekan dan keluarga, untuk kesehatan dan segala rezeki dimasa mendatang. 
Kemudian, apa sebenarnya makna dari hari lahir itu? untuk apa ritual tahunan tersebut dirayakan? adakah hikmah-hikmah yang bisa kita ambil daripada sekedar menjalankan ritual atau gengsi? Pada dasarnya tiap-tiap individu memiliki pemaknaan masing-masing terhadap datangnya hari lahir. Dan disini, saya ingin mencoba menuliskan beberapa pemaknaan dari umumnya yang sering saya dengar.
Momen hari lahir adalah momen berkurangnya masa hidup. Setiap yang bernyawa pasti akan mati, begitu firman Allah di dalam Al-Quran (3:185). Maka, banyak yang memaknai hari lahir sebagai berkurangnya jatah hidup didunia, dan semakin dekat pula dengan ajal yang kita tak pernah tahu kapan akan datang. Pada akhirnya, hari lahir ini menjadikan ajang muhasabah bagi mereka, tentang bekal apa yang sudah mereka siapkan untuk menjemput ajalnya kelak.
Kemudian, momen bertambahnya umur juga dimaknai dengan keharusan untuk menjadi lebih baik. Maksudnya disini adalah, seiring bertambah umur, maka (seharusnya) hal-hal baik yang kita lakukan haruslah bertambah. Menjadikan diri kita (setidaknya) lebih baik dari tahun sebelumnya.
Dua pemaknaan itu adalah yang paling umum sekali saya dengar. Selanjutnya adalah pemaknaan yang pernah saya baca, entah dimana saya lupa, yaitu hari lahir adalah hari dimana Ibu kita menahan sakit, antara hidup dan mati, demi melahirkan kita. Demi melahirkan kita anaknya, yang ia harapkan menjadi anak yang sholeh/sholehah, yang menyejukkan siapa saja yang memandang, dan harapan-harapan baik yang lain.
Ya, hari lahir kita adalah hari dimana ibu kita merasakan sakit yang amat sangat demi lahirnya kita. Sang ayah pun tak kalah bingung soal keselamatan ibu dan anaknya, juga biaya yang tak sedikit. Anak yang akan mereka besarkan nantinya, dengan segala harap soal baktinya kelak. Anak yang kemudian diberi nama yang menjadi harapan dan doa mereka. Maka, di hari lahir ini sudahkah kita menjadi seperti yang mereka harapkan? Pantaskah dihari lahir kita, kita justru meminta uang kepada orang tua untuk berpesta dengan teman, hanya karena gengsi atau semacamnya? Ah, sejujurnya sangat tak pantas bagi saya menulis paragraf diatas. Karena saya pun jauh dari kata "sesuai dengan yang mereka harapkan". Semoga Umi dan Abi disayang Allah :)
Pemaknaan berikutnya saya kutip dari website Salimah, yaitu mengenai tiga makna hari lahir.
  1. Wulidna bil mahabbati warahmah, kita lahir dengan membawa misi penyebar kasih sayang. Kita terlahir karena kasih sayang kedua orang tua kita, dan kita pun terlahir dengan untuk membawa misi rahmatan lil'alamin.
  2. Wulidna bil izzati walkaramah, kita lahir dengan kehormatan dan kita lahir untuk meraih kemuliaan. Kita lahir dengan kehormatan (QS 63:8), dan lahir untuk meraih kemuliaan (QS 17:70)
  3. Wulidna bil amanati wal masuliyah, kita lahir untuk mengemban amanah dan memikul tanggung jawab. Kita lahir mengemban amanah untuk beribadah (QS 51:56) dan sebagai khalifah di muka bumi (QS 2:30). Kita pun terlahir untuk memikul tanggung jawab (QS: 33:72) dan kelak akan dimintai pertanggung jawabannya (QS 17:36). Maka jangan sekali-kali kita mengkhianati amanah dan tanggung jawab tersebut (QS 8:27)
Pada akhirnya, pemaknaan mengenai hari lahir ini pun kembali ke diri kita masing-masing. Sebagai apa dan bagaimana hari lahir itu dimaknai. Adakah ia berupa muhasabah mengenai datangnya ajal, bertambahnya kebaikan, birrul walidain juga amanah dan tanggung jawab kita sebagai manusia. Ataukah ia sekedar menjadi perayaan ritual tahunan saja, rutininas tiap tahunnya tanpa ada satupun kebaikan didalamnya. Tulisan ini pun pada dasarnya adalah refleksi bagi saya sendiri, sudahkah saya? 
Saya percaya, masih banyak lagi makna-makna yang baik mengenai hari lahir. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang pandai mengambil hikmah.

Wallahu a'lam.

Selasa, 16 September 2014

(Review) Max Havelaar; Cerita Kejamnya Kolonial

Yak, akhirnyaaa, setelah berbulan-bulan selesai juga gw baca buku Max Havelaar. Dan mau cerita sedikit deh tentang buku itu.

"Kisah yang 'membunuh' kolonialisme."--
--Pramoedya Ananta Toer (New York Times, 1999)

Buku Max Havelaar dikarang oleh Multatuli, atau lebih kita kenal dengan nama Eduard Douwes Dekker (1820-1887). Douwes Dekker ini petama gw kenal ya di buku sejarah jaman SMP dulu, yang bikin Indische Partij, bareng sama Tjipto Magunkusumo dan Ki Hajar Dewantara (oke dua nama ini gw googling dulu, lupa broo :v). Jadi si Multatuli ini dia mengabdi sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda selama 18 tahun.
Sebelum masuk ke isi buku, tak tulis dulu deh apa yang ada di sampul belakang buku, semacam ringkasan dari penerbitnya.
Max Havelaar, ditulis oleh Eduard Douwes Dekker, mantan Asisten Lebak, Banten, pada abad ke-19. Douwes Dekker terusik nuraninya melihat penerapan sistem tanam paksa oleh pemerintah Belanda yang menindas bumiputra. Dengan nama pena Multatuli, yang berarti aku menderita, dia mengisahkan kekejaman sistem tanam paksa yang menderita. Mereka diperas oleh kolonial Belanda dan pejabat pribumi korup yang sibuk memperkaya diri. Hasilnya, Belanda menerapkan Politik Etis dengan mendidik kaum pribumi elite sebagai usaha "membayar utang mereka kepada pribumi.
Begitu yang tertulis pada lembar belakang cover, cukup menarik buat gw. Nah, sebelum gw nyeritain isi ini buku versi gw, gw mau bilang dulu kalo daya tangkep gw terhadap isi buku itu masi cukup lemah. Bahasanya masih terlalu ribet buat gw, Jadi kalau ada salah tafsir dari gw, ya maap, bukan salah bukunya. :v ahaha..
Oke, seperti yang gw bilang tadi, ini buku ribet banget ceritanya. Awal cerita berkisah tentang Droogstoppel, seorang makelar kopi di Belanda sana yang pragmatis. Bab-bab awal benar-benar seperti diary yang ditulis sendiri oleh Droogstoppel, menceritakan tentang dirinya, keluarganya, dan usahanya. Yang kemudian Droogstoppel itu ketemu dengan Sjalmaan. Sjalmaan ini punya semacam naskah cerita, Droogstoppel pun menyuruh Stern, salah satu anak dari koleganya yang kerja untuknya, buat nulis naskah dari Sjalmaan buat dibukunya. Bab-bab awal benar-benar bercerita tentang Droogstoppel tadi. Dan jalan ceritanyapun tidak semulus yang gw tulis di atas. Cukup ribet buat gw untuk faham, jadi ya cuma gw tulis singkatnya aja, seperti di atas.
Lanjut bab pertengahan hingga akhir buku menceritakan tentang paket naskah dari Sjalmaan, yang didalam buku ini ditulis oleh Stern. Baru lah dari bab pertengahan ini muncul Max Havelaar. Bab yang ditulis oleh Stern ini sudah tidak lagi dengan gaya bahasa diary satu orang, tapi udah gaya bahasa orang ketiga. Cerita tentang Max Havelaar ini dimulai dari dia dilantik menjadi Asisten Residen Lebak. Lebak ini sendiri merupakan daerah yang sangat miskin, namun Bupatinya yang merupakan orang pribumi sangat berkecukupan bahkan bisa dibilang berlebihan.
Jadi, diceritakan bahwa Bupati Lebak (orang pribumi) ini cukup semena-mena, dengan mudahnya ia merampas segala milik rakyat atau dibeli dengan harga yang tak pantas, entah itu ternak ataupun hasil perkebunan. Hasilnya warga banyak yang merasa tertindas. Pemerasan semacam ini dibiarkan oleh Residen Banten (orang belanda), yang hanya menceritakan kedamain dalam laporannya ke Gubernur Jendral Hindia Belanda (orang belanda).
Singkatnya, sebagai Asisten Residen Lebak, Max Havelaar ini banyak menerima aduan dari masyarakat mengenai ketidakadilan penguasa yaitu si Bupati Lebak. Max Havelaar pun ngelapor ke Residen Banten buat memecat si Bupati Lebak, dan juga ngelapor ke Gubernur Jendral Hindia Belanda. Permintaan Max Havelaar ditolak, dan dia diberhentikan sebagai Asisten Residen Lebak dan setelah itu dia berhenti sebagai Asisten Residen.
Dan barulah di Bab terakhir, Multatuli muncul, dan menegaskan bahwa bukunya ini memang terlihat tak terkonsep dan berantakan, namun soal penindasan yang terjadi oleh kolonial Belanda dan pribumi korup ialah benar, dan memang itu yang ingin dia tunjukkan dalam bukunya. Penindasan dan pemerasan terhadap masyarakat.
Nah, begitulah kira-kira isi bukunya. Memang cukup sulit buat gw cerna karena memang agak berantakan. Kemudian, gw percaya bahwa Sejarah itu bergantung dengan siapa yang menulis. Maka, gw rasa masih banyak yang kurang dari kisah-kisah pemerasan zaman kolonial. Di buku tersebut hanya diceritakan bahwa sang Bupati yang orang pribumi lah yang melakukan penindasan, sementara "dosa" dari seorang Residen dan Gubernur Jendral yang orang Belanda hanya seolah membiarkan hal tersebut.
Yap, segini aja dulu deh review dari gw mengenai buku ini. Sekali lagi gw tegaskan kalau gw susah mencerna isi dari buku ini, jadi bagi temen-temen yang sudah membaca dan ingin menyanggah apa yang gw tulis, silahkan saja. Bagi yang belum baca, silahkan baca :P

Jumat, 12 September 2014

Bahagia itu Sederhana

Tulisan ini berawal dari bincang sederhana, dengan seorang sahabat. Yap, tentang bahagia. Bincang kami sederhana, menyoal masa depan. Masa dimana tak bisa kita prediksi, hanya Allah yang Maha Mengatahui lah yang mengerti soal masa depan. Manusia cukup berencana, berusaha, dan berdoa, sisanya biar menjadi rahasia Allah SWT. Frase yang sangat umum sekali kita deng
ar.
Bincang kami terus berlanjut, hingga soal takut masa depan. Kesimpulan kami, takut masa depan sama saja seperti kita tidak percaya sama Allah. Yap, jika memang kita beriman kepada Allah, tak perlu takut soal masa depan. Allah sudah menyiapkan semuanya, soal rezeki, jodoh, semua. Kembali, tinggal bagaimana kita berusaha dan meminta kepadaNya.
Dan pada akhirnya, bincang berlanjut menyoal makna bahagia. Bahagia itu seperti apa? begitu pertanyaan kami. Jika memang bahagia itu soal materi, maka bisa saja orang itu tak kan pernah bahagia, karena pada dasarnya ia tak kan pernah puas dengan apa yang ia miliki. Yap, mungkin definisi bahagia tiap orang berbeda, maka, buatlah definisi yang tepat untuk bahagia itu. Defisini yang benar-benar dapat membuat kita bahagia, bukan yang membuat kita sengsara mencari bahagia.
Kesimpulan kami soal makna bahagia ialah tentang syukur. Bahagia ialah bagaimana kita bersyukur. Bersyukur dengan apa yang kita dapat. Seperti Firman Allah dalam surah Ibrahim ayat 7, bahwa Allah akan menambah nikmat jika kita bersyukur kepadaNya. Kesimpulan kami bahwa jangan tunggu bahagia untuk bersyukur, bersyukurlah maka kamu akan bahagia.
Wallahu a'lam.

Kamis, 14 Agustus 2014

Saudaraku

Sebuah sajak yang ditulis saat hendak meninggalkan Kota tempat belajar, belajar segala hal, Yogyakarta. Sajak yang juga melengkapi sebuah buku. Sajak tentang mereka, tentang kami, juga tentang kita. Untukmu Saudaraku.


Saudaraku,
SNADA dalam nasyid Teman Sejati
Berkisah tengah mencari seorang
Untuk menemani perjuangan suci

Saudaraku,
Bukankah kita begitu
Menemani mendukung menasihati
Bersama di jalan ini

Saudaraku,
Nasyid tarbiyah Ribathul Ukhuwah
Mengajarkan bahwa ukhuwah
Sebagai pengikat dan Izzah dalam Intima

Saudaraku,
Bukankah kita begitu
Bersama terikat dan bangga
Dalam Intima di jalan Nya

Saudaraku,
Edcoustic pun berkisah dalam nasyidnya
Berpisah tak berarti berhenti berjuang
Kenanglah masa indah sebiru hari ini

Saudaraku,
Bukankah kita begitu
Tetap dan terus berjuang
Dan tak lupa akan kita

Saudaraku,
Terima kasih untuk segala
Ajakan nasihat juga dukungan
Selama berjalan bersama

Saudaraku,
Maafkan juga diriku
Atas tingkah kata tak patut
Selama berjuang bersama

Saudaraku,
Selipkan kita dalam tiap do'a
Agar jauh pun tetap terasa dekat
Semoga selalu dalam lindunganNya

02/06/2014
dalam bilik perenungan
.maha.

Rabu, 02 Juli 2014

Kisah Seekor Ikan Kecil dan Air

Berbagi kisah dari e-book tentang cerita-cerita inspiratif. Kali ini berkisah tentang seekor ikan.

Suatu hari, ada seekor ikan kecil sedang berenang di pinggir sungai dan mendengar percakapan antara seorang ayah dan anak manusia. Ayah itu berkata kepada anaknya, "Lihatlah nak, air begitu penting dalam kehidupan ini. Tanpa air, kita semua akan mati".

Ikan yang mendengan percakapan itu pun bingung dan gelisah. Ia ingin tahu apakah air itu yang begitu pentingnya. Ikan itu pun berenang kesana-kemari mencari dimana air itu. Tak lupa ia bertanya kepada setiap ikan yang dijumpainya, "Hai tahukah kamu dimana air? aku mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati". Dan semua ikan yang ditemuinya menggeleng tidak tahu.

Sampailah ikan kecil itu pada ikan sepuh. Kembali ia bertanya, "dimanakah air itu?". Dan dijawablah oleh si ikan sepuh, "Tak usah cemas anakku, air itu telah mengelilingimu. Memang benar, tanpa air, kita akan mati."

Dari kisah singkat itu dapat kita ambil pelajaran, bahwa terkadang kebahagiaan itu ada di sekitar kita, tapi kita tak pernah menyadarinya. Kita mencari kesana kemari soal kebahagiaan, padahal tak jarang itu ada di dekat kita, bahkan kita sedang menjalaninya.
Terkadang nikmat itu dekat, sangat dekat bahkan. Namun semua tertutup karena kita tidak pandai bersyukur. Ya, jangan tunggu merasakan nikmat baru bersyukur, tapi bersyukurlah maka kita akan merasakan nikmat. :)

Wallahu a'lam