Laman

Rabu, 02 Juli 2014

Kisah Seekor Ikan Kecil dan Air

Berbagi kisah dari e-book tentang cerita-cerita inspiratif. Kali ini berkisah tentang seekor ikan.

Suatu hari, ada seekor ikan kecil sedang berenang di pinggir sungai dan mendengar percakapan antara seorang ayah dan anak manusia. Ayah itu berkata kepada anaknya, "Lihatlah nak, air begitu penting dalam kehidupan ini. Tanpa air, kita semua akan mati".

Ikan yang mendengan percakapan itu pun bingung dan gelisah. Ia ingin tahu apakah air itu yang begitu pentingnya. Ikan itu pun berenang kesana-kemari mencari dimana air itu. Tak lupa ia bertanya kepada setiap ikan yang dijumpainya, "Hai tahukah kamu dimana air? aku mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati". Dan semua ikan yang ditemuinya menggeleng tidak tahu.
Sampailah ikan kecil itu pada ikan sepuh. Kembali ia bertanya, "dimanakah air itu?". Dan dijawablah oleh si ikan sepuh, "Tak usah cemas anakku, air itu telah mengelilingimu. Memang benar, tanpa air, kita akan mati."

Dari kisah singkat itu dapat kita ambil pelajaran, bahwa terkadang kebahagiaan itu ada di sekitar kita, tapi kita tak pernah menyadarinya. Kita mencari kesana kemari soal kebahagiaan, padahal tak jarang itu ada di dekat kita, bahkan kita sedang menjalaninya.
Terkadang nikmat itu dekat, sangat dekat bahkan. Namun semua tertutup karena kita tidak pandai bersyukur. Ya, jangan tunggu merasakan nikmat baru bersyukur, tapi bersyukurlah maka kita akan merasakan nikmat. :)

Wallahu a'lam

Selasa, 17 Juni 2014

Upin & Ipin: Lucu dan Penuh Nilai

Upin Ipin, salah satu film animasi, menjadi hiburan tersediri (setidaknya buat gw) ditengah riuhnya acara-acara televisi yang aneh-aneh. Yap, aneh. Mulai dari acara komedi saling caci plus joget-joget yang apasih, hingga sinetron-sinetron yang entah apa maksudnya. Belum lagi acara-acara berita yang (buat gw) cukup membosankan, di isi dengan pencitraan tokoh-tokoh atau penghancuran tokoh yang lain.
Di antara acara-acara yang makin aneh tadi, masih ada acara-acara yang menghibur dan mendidik. Acara-acara yang tak hanya menghibur, namun juga menumbuhkan optimisme dalam diri. Acara-acara talk show inspiratif, jelajah negeri, dan beberapa film animasi. Yap, film animasi, mau cerita tentang film animasi favorit gw, upin ipin.
Cerita upin ipin itu sederhana bro, cuma kisah tentang sekelompok anak kecil yang seneng main. Udah, gitu doang, main doang. Salah satu yang membuat gw tertarik dengan upin ipin karena latarnya, melayu. Yap, upin ipin ini emang film animasi punya negri jiran, settingannya pun disana. Entah kenapa seneng aja sama settingannya, cerita tentang anak-anak kecil di desa, yang seneng main. Cerita tentang anak kecil dengan settingan daerah melayu itualah yang bikin gw teringat dengan masa-masa gw kecil dulu ketika di Meulaboh dan di Banda Aceh.
Selain karena mengingatkan masa kecil, ada faktor lain yang juga menjadi alasan gw seneng sama film upin ipin, yaitu penanaman pesan. Cara si pembuat cerita menanamkan pesan kepada penonton lah yang gw suka. Tidak ada peran antagonis di film upin ipin ini, tidak ada sosok jahat yang penuh dengan iri dan dengki. Pesan-pesan moral yang disampaikan pun sederhana dan pas untuk anak-anak. Beda dengan anime seperti naruto, one piece, dll. Cara penyampaian moralnya terlalu rumit bagi anak-anak.
Sebenarnya Indonesia pun punya karya animasi sendiri yang bisa dibilang lumayan lah. Hanya saja dari segi cerita dan penanaman pesan, menurut gw masih kurang baik dari upin ipin. Oke, ambil contoh, ada salah satu film animasi judulnya Keluarga Pak Somat (kalo ga salah namanya gitu). Karakter dari salah satu tokoh utama di film ini, si Dudung, ialah seorang anak yang cenderung bandel. Film ini memang menceritakan tentang kehidupan sehari-hari juga, namun yang membedakan ini dengan Upin-Ipin jelas dari segi nilai. Entah, tapi pernah nonton itu film, nilai yang ingin disampaikan sepertinya ga ada, cuma hiburan aja.
Kemudian ada lagi film Adit & Sopo Jarwo. Ini cerita tetang seorang anak yang digangguin mulu sama pengangguran, trus di akhir muncul Dedy Mizwar ngasi nasehat. Oke, ini ada penanaman nilai. Hanya saja dari segi pengemasan film, si tokoh yang kurang baik itu bisa dibilang ga pernah tobat lah. Meski udah apes dan udah dinasehatin sama Dedy Mizwar. Pun sama dengan film animasi Si Entong. Ceritanya tentang sosok seorang anak baik yang selalu di usili oleh temannya. Temannya ini selalu iri dan dengki dengan si Entong. Persis seperti film sebelumnya, si sosok bandel ini akan selalu gagal ngusilin si Entong, bahkan sampe kena sial dan kena omel. Namun, tetap saja tiap hari ngusilin dan ga pernah tobat. 
Karena bentuk pengemasan yang seperti itu, maka menurut gw film Upin Ipin masih jauh lebih baik dalam segi penanaman nilai. Bukan ga ada film anak Indonesia yang bagus, ada, contohnya Si Bolang, Laptop Si Unyil, dan yang semacacmnya. Memang ini bukan film animasi, ini film dokumenter, namun dari segi penanaman nilai, film-film ini bagus.
Penanaman nilai sejak kecil itu bisa jadi pondasi ketika sudah besar nanti. Memang, tidak ada yang memastikan ketika kecilnya baik besarna pasti baik, maupun kecilnya kurang baik besarnya jadi buruk. Namun, ada baiknya penanaman nilai itu dilakukan sejak kecil. Dan film, merupakan salah satu metode untuk menanamkan nilai. Maka, semoga kelak semakin banyak seniman-seniman Indonesia yang tak hanya punya skill yang bagus, namun juga punya idealisme untuk perkembangan anak Indonesia.

Minggu, 08 Juni 2014

Percakapan Dengan Malam

Hei malam,
Jangan lah kau cepat beranjak
Aku masih belum mau pagi
Bukan aku membenci pagi
Tapi belum mau saja
Ada rasa yang mengganjal
Rasa yang pernah hadir
Belasan tahun yang lalu
Ketika beranjak dari lahan
Lahan tempat menanam
Begitu aku menyebutnya
Kini pun sama
Harus beranjak pula
Dari lahan penghijauan
Begitu kini aku menyebutnya
Menuju lahan lain
Yang entah bagaimana
Rupa dan badainya
Ah, malam
Aku belum mau pagi
Belum siap
Namun semua niscaya
Harus siap, harus siap
Ya, semoga bisa kembali
Kembali menghijau di lahan ini
Dan, hai malam
Aku titip lahan itu
Dan untukmu pagi
Bawa aku nanti
Aku siap pergi

pecakapan dengan malam
dalam sebuah bilik di lahan penghijauan
07062014
.maha.

Rabu, 07 Mei 2014

Tentang Impian

Beh, udah setengah tahun ga di urus. Lama bingit. ._.

Akhir-akhir ini sering muncul twit-twit atau update status atau nasihat-nasihat dari temen atau apalah yang berbicara tentang mimpi, impian, harapan dan yang sejenisnya. Jadi tertarik untuk nulis tentang mimpi.
Alkisah ada seorang anak kecil, ia punya mimpi, ingin menjadi Presiden. Seiring berjalannya waktu, mimpi itu terus berubah sesuai kehendaknya. Maklum, masih kecil. Mimpi itu terus berubah, mulai ingin jadi penulis, politisi, hakim, pengacara, jurnalis. Dan sekarang apakah sudah terwujud? entah lah. Hahaha..
Kenapa sih kita harus punya mimpi? Karena mimpi itu lah yang membuat kita tetap hidup. Tanpa mimpi, hidup seperti hampa (ceilaah, dasar jomblo!). Simpelnya, kalau tidak ada sesuatu yang ingin dicapai, hidup cenderung monoton. Hidup pun ya sekedarnya aja, sekedar bisa nafas, sekedar bisa makan, sekedar bisa buang air, sekedar bisa tidur. Kalau tak punya mimpi, maka kita akan menjadi bagian dari mimpi orang lain.
Cerita-cerita tentang mimpi ini sudah banyak, kiat-kiatnya, dan sebagainya. Beberapa yang populer mungkin tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan trilogi Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Motivator-motivator pun menjamur, mendongeng bagaimana kita harus bermimpi. Pun sejarah mencatat, kejadian-kejadian, penemuan-penmuan semua berawal dari mimpi. Kemerdekaan Indonesia pun berawal dari mimpi, mimpi pemuda-pemuda Indonesia pada masa itu yang ingin bangsa Indonesia lepas dari penjajahan.
Nah, mimpi itu berawal dari niat. Niat ingin bermimpi, dan niat ketika mimpi sudah tercapai. Sebaik-baik niat, adalah yang diniatkan karena Allah. Maka, niatkanlah karena Allah. Terlalu percuma kalau niat kita hanya untuk urusan dunia, apalagi hanya untuk kebanggaan diri. Tak hanya di awal saja, tapi niat itu juga harus terjaga sepanjang pencapaian mimpi tadi. Kemudian hal lain yang tak kalah penting adalah yakin kalau kita mampu mencapai apa yang kita mimpikan. Ini penting, jika rasa optimis tercapai saja tidak ada, bagaimana mau mencapainya?
Terus, mimpimu apa qih? hmm. Dulu sih sempet update status di FB, kalau pada ulang tahun yang ke-(lupa) pengen dilantik jadi presiden. Haha, kebetulan hari pelantikan presiden bertepatan sama hari ulang tahun gw. Hihi, itu becandaan aja sih tapinya. Balik lagi, apasih mimpi gw? hmm, untuk jangka panjang gw pengen jadi salah satu orang yang berpengaruh dalam pengambilan kebijakan, entah itu di tingkat nasional atau provinsi, atau kota, atau bahkan tingkat RT sekalipun! hahaa. Belum fokus ya? yap, nanti difokuskan lagi. Jangka pendeknya, meniti jalan menuju mimpi jangka panjang tadi. Seperti mencari destinasi untuk lanjut studi atau kerja atau tempat mengabdi. Belum fokus lagi ya? iya, jangan ditiru ya.
Jadi, teruslah bermimpi. Mimpi akan membuatmu hidup. "Apa yang terjadi hari ini adalah mimpiku kemarin, dan yang terjadi esok adalah mimpiku hari ini", salah satu frase yang populer buat gw, dari Imam Hasan Al-Banna. Biarkan mimpi kita yang mengatur kita. Beranilah bermimpi, seperti kata Andrea Hirata, "Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu". Jangan jadikan kegagalan demi kegagalan menjadi penghambat pencapaian mimpi. "Dan mimpi tidak boleh selesai karena kegagalan", satu lagi frase yang gw percaya, lupa ngutipnya dari buku mana.

Jangan berhenti pada lamunan,
Tulislah impianmu.
Jangan berhenti pada tulisan,
Raihlah impianmu.
Jangan berhenti pada usaha,
Selipkan dalam Do'amu.

Senin, 28 Oktober 2013

Pemuda Pejuang

Yap, udah lama ga diurus ini blognya. haha. Tapi Alhamdulillah sih, meski ga nulis blog,  4 bulan kemarin ini sudah berhasil menelurkan 2 literatur buat jurusan. Semoga menjadi manfaat deh ya. :)

Kali ini sih bukan cuma mau posting tulisan aja, mau posting desain juga. mumpung hari sumpah pemuda. :)


Begitulah hakikatnya pemuda, bersamanya Ilmu dan Taqwa. Dan mari sejenak lihat kedalam diri, pantaskah kita disebut pemuda? sudahkah kita benar-benar menjadi seorang pemuda?
Miris, ketika banyak yang masih beranggapan kalau masa muda identik dengan foya dan pesta. Terlalu percuma jika energi muda tersebut hanya habis untuk hal kurang bermanfaat tersebut.
Masih dalam suasana Dzulhijjah, bagaimana cerita keluarga Ibrahim yang selalu dapat dijadikan hikmah. Isma'il, sosok pemuda yang selalu mengedepankan Taqwanya. Ketika tanpa ragu dia rela menjadi qurban yang menjadi perintah Allah kepada dirinya. Juga kisah Ibrahim muda, yang dengan ilmunya dia melawan tirani Raja Namrud.
Bagaimana seorang Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Ammar bin Yasir, Abdullah ibnu Abbas, dan pemuda-pemuda lainnya pada zaman Rasulullah menjadi bagian dari perjuangan perkembangan Islam di masanya. Tentu juga dengan bekal Ilmu dan Taqwa.
Juga kisah seorang Muhamman Al Fatih, di usianya yang ke-23 tahun berhasil menaklukkan benteng Konstantinopel. Benteng yang sejak zaman Rasulullah belum berhasil ditembus oleh pasukan Muslimin.
Dan masih banyak lagi pemuda-pemuda muslim yang dengan Ilmu dan Taqwanya mereka berhasil menumpas tirani, dan kemudian menjadi hikmah bagi pemuda-pemuda setelahnya.
Tak perlu jauh, kemerdekaan Indonesia pun lahir berkat semangat para pemuda-pemuda muslim yang gerah dengan tirani kompeni. Ya, tentu dengan Ilmu dan Taqwa. Pemuda-pemuda ini kemudian bersatu dan berhasil mengusir penjajah.
Nah, tentu kisah-kisah pemuda yang berjaya, yang tercatat dalam sejarah dan kemudian menjadi hikmah, bukanlah pemuda yang kesehariannya dihabiskan untuk hal-hal yang sepele. Ah, lihat sejenak kedalam diri kita. Masihkah begitu?
Indonesia kedepannya dipimpin oleh pemuda-pemuda sekarang. Jika memang masih menghabiskan energi muda untuk berfoya, maka semoga kita bukan menjadi sandungan para pemuda yang sedang berjuang menyelamatkan Indonesia.
Jika kita bukan bagian dari pemuda penyelamat tersebut, berharaplah bukan menjadi penghambat, jika memang masih cinta Indonesia.
Kembali lagi keatas, hakikat pemuda adalah Ilmu dan Taqwa. Semoga kita masih bisa disebut pemuda. Dan tentu, yang menjadi bagian dari perjuangan.

Ya Allah, hadirkanlah sosok-sosok Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Ammar bin Yasir, Abdullah ibnu Abbas, dan sosok-sosok pemuda zaman Rasulullah SAW di Indonesia ini.
Ya Allah, hadirkanlah sosok Muhammad Al Fatih dari bangsa ini.
Ya Allah, hadirkanlah kembali sosok pemuda-pemuda pejuang kemerdekaan Indonesia di negeri ini.
Ya Allah, jadikanlah Ilmu dan Taqwa senantiasa menghiasi hari-hari kami.
Ya Allah, jadikanlah kami bagian dari pejuang, bukan penghabat pejuang.

Selamat mengenang perjuangan pemuda pendahulu.
Selamat menjadi pemuda.
Selamat berjuang.

Minggu, 19 Mei 2013

Belajar dari Sejarah?

Jadi ceritanya gw baru selesai baca buku Api Sejarah yang pertama, bukunya Ahmad Mansur Suryanegara. Dan kebetulan bertepatan juga dengan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, jadilah gw mau soksokan bikin tulisan. Hhe.

Dulu waktu di SMA, guru sejarah gw mengenalkan sebuah frase yang diungkapkan oleh Cicero, Historia Vitae Magistra. Artinya adalah Hidup Guru Sejarah!! eh salah, artinya adalah Sejarah Guru Hidup. Nah, Kita percaya bahwa dari sejarah kita dapat belajar, dari kejadian-kejadian masa lalu kita dapat mengambil ibrahnya yang kemudian menjadi pertimbangan kita untuk menjalani masa depan.
Penulisan sejarah sendiri bergantung dari siapa yang berkuasa. Ketika Indonesia masih diduduki oleh Kolonial Belanda, maka jelas, penulisan sejarah Indonesia saat itu bergantung pemerintah Kolonial Belanda. Jelas, penulisan sejarah yang sangat diutamakan adalah dengan membentuk opini yang baik terhadap mereka pribumi yang kooperatif dengan pemerintahan Kolonial Belanda.
Begitupun dengan penentuan Hari Kebangkitan Nasional Indonesia, yang di ambil dari hari terbentuknya organisasi Boedi Oetomo, 20 Mei 1908. Penentuan Harkitnas sendiri dilakukan pada masa Kabinet Hatta (1948-1949 M). Ketika itu Kabinet Hatta sedang mendapatkan serangan balik dari pelaku Koedeta 3 Juli 1946, yakni Tan Malaka dan M. Yamin dalam pembalaannya di Pengadilan Negeri, yang dinilai oleh Kabinet Hatta dapat menumbuhkan perpecahan bangsa yang sedang menghadapi Perang Kemerdekaan (1945-1950 M). Oleh karena itu, dirasa perlu oleh Kabinet Hatta membangkitkan kembali kesadaran nasional melawan penjajah, maka dipilihlah 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional yang merupakan tanggal berdirinya Boedi Oetomo.
Dan kemudian berkembanglah cerita-cerita sejarah yang tertulis dalam buku-buku sejarah di sekolah-sekolah, bahwa Boedi Oetomo merupakan organisasi pertama yang didirikan oleh bangsa Indonesia yang merupakan tonggak dari bangkitnya kesadaran nasional untuk melawan penjajah. Namun, pada kenyataannya, organisasi Boedi Oetomo adalah organisasi yang tidak dapat dibilang representasi bangsa Indonesia secara umum, karena keanggotaan Boedi Oetomo bersifat eksklusif, hanya beranggotakan bangsawan-bangsawan Jawa.
Pada Algemene Vergadering (Rapat Umum) Boedi Oetomo di Bandung, 1915 M, sikap Djawanisme Boedi Oetomo semakin dipertegas. Hal ini dikarenakan Hoofdbestuur (Ketua) terpilih, R. Sastrowidjono, meminta para hadirin menyerukan: Leve pulau Djawa, Leve bangsa Djawa, Leve Boedi Oetomo (Hidup pulau Jawa, Hidup bangsa Jawa, Hidup Boedi Oetomo). Bahkan pada Kongres Boedi Oetomo di Surakarta (6-9 April 1928), memutuskan bahwa Boedi Oetomo menolak cita-cita persatuan Indonesia (Mr. A. K. Pringgodigdo, 1960, Sedjarah Pergerakan Rakjat Indonesia).
Sementara itu beberapa tahun sebelum Boedi Oetomo berdiri, H. Samanhoedi membentuk organisasi Sjarikat Dagang Islam, yaitu pada tanggal 16 Oktober 1905. Pembentukan organisasi tersebut merupakan respon menghadapi tantangan imperialisme modern. Organisasi ini tidak bersifat kooperatif dengan pemerintahan kolonial. Kemudian pada tahun 1906, H. Samanhoedi mendirikan Sjarikat Islam. Namun banyak sejarawan yang menuliskan bahwa SI didirikan pada 10 September 1912, yaitu pada saat memperoleh badan hukum di bawah pimpinan Oemar Said Tjokroaminoto.
Pada tanggal 17-24 Juni 1916, Sjarikat Islam mengadakan National Congres Centraal Sjarikat Islam Pertama (1e Natico). Kongres tersebut menghasilkan keputusan menuntut Indonesia merdeka dengan istilah Pemerintahan Sendiri (Zelf Bestuur). Bandingkan dengan keputusan Boedi Oetomo pada Kongresnya di tahun 1928 di atas. Pada National Congres Centraal Sjarikat Islam Keempat (4e Natico) di Surababaya, 1919, anggota yang hadir sebanyak 2,5 Juta orang. Di umurnya yang ke7 setelah memperoleh badan hukum, SI benar-benar telah membangkitkan kesadaran nasional untuk menghadapi penjajahan kolonial Belanda. Pengaruhnya meluas tak hanya sebatas Pulau Jawa saja.
Nah, selesei dulu cerita-ceritanya. Sekarang berkaca dari realita sejarah di atas, pantaskah kelahiran Boedi Oetomo dijadikan suatu momentum kebangkitan nasional? Selain itu, sepak terjang SI pun tampak tak begitu dominan dalam cerita-cerita di buku sejarah sekolah-sekolah. Mengapa? apakah karena SI yang sedari awal terbentuk sudah anti kolonial? atau karena yang menggerakkan kesadaran nasional itu adalah ulama-ulama di SI? Begitulah sejarah, ia diceritakan sesuai dengan si empunya kuasa. Digunakan untuk membentuk opini secara massal. Maka pantaslah hingga saat ini perjuangan para ulama-ulama dalam menegakkan kedaulatan NKRI tidak begitu terdengar, karena memang begitu inginnya.
Kembali lagi ke kebangkitan, bukannya mau mempersalahkan ataupun menuntut untuk di ganti tanggal perayaannya, tapi adalah baik jika kita mengkaji lagi sejarah yang ada. Membaca sejarah secara utuh, untuk kemudian kita ambil pelajaran darinya. Bahwa sedari dahulu campur tangan asing selalu saja ada demi keuntungan mereka dan penguasa saja. Bahwa penguasa dapat membentuk opini massal dan dapat membuat biasnya informasi yang dapat di terima masyarakat. Dan pelajaran-pelajaran lainnya.
Mungkin kalian lebih tau bagaimana caranya agar Indonesia dapat terus bangkit, mungkin kalian juga sudah sering berkontribusi bagi negara ini dibandingkan dengan gw. Dan semoga kebangkitan Indonesia tak hanya berujung pada orasi, tulisan, ataupun pidato-pidato di hari kebangkitan nasional ini, namun juga benar-benar dapat menjadikan Indonesia ini berkeadilan. Ya, bangkitlah negeriku, harapan itu masih ada!!

Rabu, 15 Mei 2013

Potret Kedamaian

Pengen coba berbagi tentang salah satu nasyid dari Gradasi, judulnya Potret Kedamaian. Liriknya begini:

Potret Kedamaian

Kaki kecil melangkah menapak bumi yang indah
Seakan tiada beban hidup di dunia
Wajah polos yang cerah menyapa ramah sesama
Angin lembut menerpa selembut hatinya

Oh indahnya hidup seperti mereka
Yang tiada dengki, iri hati damainya
Anak - anak di desa yang riang main bersama
Anugerah Yang Maha Kuasa menghias dunia

Andaikan kita bersikap mampu setulus mereka
Yang tak kenal ketamakan hanya cinta kebenaran
Andaikan kita melihat mampu sejujur mereka
Yang tak kenal perpecahan hanya cinta kedamaian

Hmm, entah kenapa pengan aja berbagi cerita dengan nasyid itu. Yang menceritakan anak-anak kecil yang polos, belum ternoda oleh dunia. Yang difikiran mereka hanya bermain bersama kawan. Asal senang tiap hari. Belum ada beban ini dan itu. Ga ada juga yang namanya dengki, iri hati, tamak, apalagi perpecahan.
Enak aja gitu kayaknya jadi mereka, ga ada iri dengki. Damai aja rasanya. Main bareng teman. Ga ada beban. Abisan sumpek aja gw ngeliyat berita-berita, entah yang mana yang bener. Semua saling serang. Udah ga ada lagi yang namanya cinta kebenaran dan cinta kedamaian. Pun kita dibiaskan dengan yang mana yang benar. Karena ketamakan terus diutamakan, pada akhirnya saling memecah belah.
Kembali ke nasyid di atas, ah, andaikan kita bisa setulus mereka. sejujur mereka. Tak kenal ketamakan apalagi perpecahan. Hanya cinta kebenaran dan cinta kedamaian.