Laman

Selasa, 16 September 2014

(Review) Max Havelaar; Cerita Kejamnya Kolonial

Yak, akhirnyaaa, setelah berbulan-bulan selesai juga gw baca buku Max Havelaar. Dan mau cerita sedikit deh tentang buku itu.

"Kisah yang 'membunuh' kolonialisme."--
--Pramoedya Ananta Toer (New York Times, 1999)

Buku Max Havelaar dikarang oleh Multatuli, atau lebih kita kenal dengan nama Eduard Douwes Dekker (1820-1887). Douwes Dekker ini petama gw kenal ya di buku sejarah jaman SMP dulu, yang bikin Indische Partij, bareng sama Tjipto Magunkusumo dan Ki Hajar Dewantara (oke dua nama ini gw googling dulu, lupa broo :v). Jadi si Multatuli ini dia mengabdi sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda selama 18 tahun.
Sebelum masuk ke isi buku, tak tulis dulu deh apa yang ada di sampul belakang buku, semacam ringkasan dari penerbitnya.
Max Havelaar, ditulis oleh Eduard Douwes Dekker, mantan Asisten Lebak, Banten, pada abad ke-19. Douwes Dekker terusik nuraninya melihat penerapan sistem tanam paksa oleh pemerintah Belanda yang menindas bumiputra. Dengan nama pena Multatuli, yang berarti aku menderita, dia mengisahkan kekejaman sistem tanam paksa yang menderita. Mereka diperas oleh kolonial Belanda dan pejabat pribumi korup yang sibuk memperkaya diri. Hasilnya, Belanda menerapkan Politik Etis dengan mendidik kaum pribumi elite sebagai usaha "membayar utang mereka kepada pribumi.
Begitu yang tertulis pada lembar belakang cover, cukup menarik buat gw. Nah, sebelum gw nyeritain isi ini buku versi gw, gw mau bilang dulu kalo daya tangkep gw terhadap isi buku itu masi cukup lemah. Bahasanya masih terlalu ribet buat gw, Jadi kalau ada salah tafsir dari gw, ya maap, bukan salah bukunya. :v ahaha..
Oke, seperti yang gw bilang tadi, ini buku ribet banget ceritanya. Awal cerita berkisah tentang Droogstoppel, seorang makelar kopi di Belanda sana yang pragmatis. Bab-bab awal benar-benar seperti diary yang ditulis sendiri oleh Droogstoppel, menceritakan tentang dirinya, keluarganya, dan usahanya. Yang kemudian Droogstoppel itu ketemu dengan Sjalmaan. Sjalmaan ini punya semacam naskah cerita, Droogstoppel pun menyuruh Stern, salah satu anak dari koleganya yang kerja untuknya, buat nulis naskah dari Sjalmaan buat dibukunya. Bab-bab awal benar-benar bercerita tentang Droogstoppel tadi. Dan jalan ceritanyapun tidak semulus yang gw tulis di atas. Cukup ribet buat gw untuk faham, jadi ya cuma gw tulis singkatnya aja, seperti di atas.
Lanjut bab pertengahan hingga akhir buku menceritakan tentang paket naskah dari Sjalmaan, yang didalam buku ini ditulis oleh Stern. Baru lah dari bab pertengahan ini muncul Max Havelaar. Bab yang ditulis oleh Stern ini sudah tidak lagi dengan gaya bahasa diary satu orang, tapi udah gaya bahasa orang ketiga. Cerita tentang Max Havelaar ini dimulai dari dia dilantik menjadi Asisten Residen Lebak. Lebak ini sendiri merupakan daerah yang sangat miskin, namun Bupatinya yang merupakan orang pribumi sangat berkecukupan bahkan bisa dibilang berlebihan.
Jadi, diceritakan bahwa Bupati Lebak (orang pribumi) ini cukup semena-mena, dengan mudahnya ia merampas segala milik rakyat atau dibeli dengan harga yang tak pantas, entah itu ternak ataupun hasil perkebunan. Hasilnya warga banyak yang merasa tertindas. Pemerasan semacam ini dibiarkan oleh Residen Banten (orang belanda), yang hanya menceritakan kedamain dalam laporannya ke Gubernur Jendral Hindia Belanda (orang belanda).
Singkatnya, sebagai Asisten Residen Lebak, Max Havelaar ini banyak menerima aduan dari masyarakat mengenai ketidakadilan penguasa yaitu si Bupati Lebak. Max Havelaar pun ngelapor ke Residen Banten buat memecat si Bupati Lebak, dan juga ngelapor ke Gubernur Jendral Hindia Belanda. Permintaan Max Havelaar ditolak, dan dia diberhentikan sebagai Asisten Residen Lebak dan setelah itu dia berhenti sebagai Asisten Residen.
Dan barulah di Bab terakhir, Multatuli muncul, dan menegaskan bahwa bukunya ini memang terlihat tak terkonsep dan berantakan, namun soal penindasan yang terjadi oleh kolonial Belanda dan pribumi korup ialah benar, dan memang itu yang ingin dia tunjukkan dalam bukunya. Penindasan dan pemerasan terhadap masyarakat.
Nah, begitulah kira-kira isi bukunya. Memang cukup sulit buat gw cerna karena memang agak berantakan. Kemudian, gw percaya bahwa Sejarah itu bergantung dengan siapa yang menulis. Maka, gw rasa masih banyak yang kurang dari kisah-kisah pemerasan zaman kolonial. Di buku tersebut hanya diceritakan bahwa sang Bupati yang orang pribumi lah yang melakukan penindasan, sementara "dosa" dari seorang Residen dan Gubernur Jendral yang orang Belanda hanya seolah membiarkan hal tersebut.
Yap, segini aja dulu deh review dari gw mengenai buku ini. Sekali lagi gw tegaskan kalau gw susah mencerna isi dari buku ini, jadi bagi temen-temen yang sudah membaca dan ingin menyanggah apa yang gw tulis, silahkan saja. Bagi yang belum baca, silahkan baca :P

Jumat, 12 September 2014

Bahagia itu Sederhana

Tulisan ini berawal dari bincang sederhana, dengan seorang sahabat. Yap, tentang bahagia. Bincang kami sederhana, menyoal masa depan. Masa dimana tak bisa kita prediksi, hanya Allah yang Maha Mengatahui lah yang mengerti soal masa depan. Manusia cukup berencana, berusaha, dan berdoa, sisanya biar menjadi rahasia Allah SWT. Frase yang sangat umum sekali kita deng
ar.
Bincang kami terus berlanjut, hingga soal takut masa depan. Kesimpulan kami, takut masa depan sama saja seperti kita tidak percaya sama Allah. Yap, jika memang kita beriman kepada Allah, tak perlu takut soal masa depan. Allah sudah menyiapkan semuanya, soal rezeki, jodoh, semua. Kembali, tinggal bagaimana kita berusaha dan meminta kepadaNya.
Dan pada akhirnya, bincang berlanjut menyoal makna bahagia. Bahagia itu seperti apa? begitu pertanyaan kami. Jika memang bahagia itu soal materi, maka bisa saja orang itu tak kan pernah bahagia, karena pada dasarnya ia tak kan pernah puas dengan apa yang ia miliki. Yap, mungkin definisi bahagia tiap orang berbeda, maka, buatlah definisi yang tepat untuk bahagia itu. Defisini yang benar-benar dapat membuat kita bahagia, bukan yang membuat kita sengsara mencari bahagia.
Kesimpulan kami soal makna bahagia ialah tentang syukur. Bahagia ialah bagaimana kita bersyukur. Bersyukur dengan apa yang kita dapat. Seperti Firman Allah dalam surah Ibrahim ayat 7, bahwa Allah akan menambah nikmat jika kita bersyukur kepadaNya. Kesimpulan kami bahwa jangan tunggu bahagia untuk bersyukur, bersyukurlah maka kamu akan bahagia.
Wallahu a'lam.

Kamis, 14 Agustus 2014

Saudaraku

Sebuah sajak yang ditulis saat hendak meninggalkan Kota tempat belajar, belajar segala hal, Yogyakarta. Sajak yang juga melengkapi sebuah buku. Sajak tentang mereka, tentang kami, juga tentang kita. Untukmu Saudaraku.


Saudaraku,
SNADA dalam nasyid Teman Sejati
Berkisah tengah mencari seorang
Untuk menemani perjuangan suci

Saudaraku,
Bukankah kita begitu
Menemani mendukung menasihati
Bersama di jalan ini

Saudaraku,
Nasyid tarbiyah Ribathul Ukhuwah
Mengajarkan bahwa ukhuwah
Sebagai pengikat dan Izzah dalam Intima

Saudaraku,
Bukankah kita begitu
Bersama terikat dan bangga
Dalam Intima di jalan Nya

Saudaraku,
Edcoustic pun berkisah dalam nasyidnya
Berpisah tak berarti berhenti berjuang
Kenanglah masa indah sebiru hari ini

Saudaraku,
Bukankah kita begitu
Tetap dan terus berjuang
Dan tak lupa akan kita

Saudaraku,
Terima kasih untuk segala
Ajakan nasihat juga dukungan
Selama berjalan bersama

Saudaraku,
Maafkan juga diriku
Atas tingkah kata tak patut
Selama berjuang bersama

Saudaraku,
Selipkan kita dalam tiap do'a
Agar jauh pun tetap terasa dekat
Semoga selalu dalam lindunganNya

02/06/2014
dalam bilik perenungan
.maha.

Rabu, 02 Juli 2014

Kisah Seekor Ikan Kecil dan Air

Berbagi kisah dari e-book tentang cerita-cerita inspiratif. Kali ini berkisah tentang seekor ikan.

Suatu hari, ada seekor ikan kecil sedang berenang di pinggir sungai dan mendengar percakapan antara seorang ayah dan anak manusia. Ayah itu berkata kepada anaknya, "Lihatlah nak, air begitu penting dalam kehidupan ini. Tanpa air, kita semua akan mati".

Ikan yang mendengan percakapan itu pun bingung dan gelisah. Ia ingin tahu apakah air itu yang begitu pentingnya. Ikan itu pun berenang kesana-kemari mencari dimana air itu. Tak lupa ia bertanya kepada setiap ikan yang dijumpainya, "Hai tahukah kamu dimana air? aku mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati". Dan semua ikan yang ditemuinya menggeleng tidak tahu.

Sampailah ikan kecil itu pada ikan sepuh. Kembali ia bertanya, "dimanakah air itu?". Dan dijawablah oleh si ikan sepuh, "Tak usah cemas anakku, air itu telah mengelilingimu. Memang benar, tanpa air, kita akan mati."

Dari kisah singkat itu dapat kita ambil pelajaran, bahwa terkadang kebahagiaan itu ada di sekitar kita, tapi kita tak pernah menyadarinya. Kita mencari kesana kemari soal kebahagiaan, padahal tak jarang itu ada di dekat kita, bahkan kita sedang menjalaninya.
Terkadang nikmat itu dekat, sangat dekat bahkan. Namun semua tertutup karena kita tidak pandai bersyukur. Ya, jangan tunggu merasakan nikmat baru bersyukur, tapi bersyukurlah maka kita akan merasakan nikmat. :)

Wallahu a'lam

Selasa, 17 Juni 2014

Upin & Ipin: Lucu dan Penuh Nilai

Upin Ipin, salah satu film animasi, menjadi hiburan tersediri (setidaknya buat gw) ditengah riuhnya acara-acara televisi yang aneh-aneh. Yap, aneh. Mulai dari acara komedi saling caci plus joget-joget yang apasih, hingga sinetron-sinetron yang entah apa maksudnya. Belum lagi acara-acara berita yang (buat gw) cukup membosankan, di isi dengan pencitraan tokoh-tokoh atau penghancuran tokoh yang lain.
Di antara acara-acara yang makin aneh tadi, masih ada acara-acara yang menghibur dan mendidik. Acara-acara yang tak hanya menghibur, namun juga menumbuhkan optimisme dalam diri. Acara-acara talk show inspiratif, jelajah negeri, dan beberapa film animasi. Yap, film animasi, mau cerita tentang film animasi favorit gw, upin ipin.
Cerita upin ipin itu sederhana bro, cuma kisah tentang sekelompok anak kecil yang seneng main. Udah, gitu doang, main doang. Salah satu yang membuat gw tertarik dengan upin ipin karena latarnya, melayu. Yap, upin ipin ini emang film animasi punya negri jiran, settingannya pun disana. Entah kenapa seneng aja sama settingannya, cerita tentang anak-anak kecil di desa, yang seneng main. Cerita tentang anak kecil dengan settingan daerah melayu itualah yang bikin gw teringat dengan masa-masa gw kecil dulu ketika di Meulaboh dan di Banda Aceh.
Selain karena mengingatkan masa kecil, ada faktor lain yang juga menjadi alasan gw seneng sama film upin ipin, yaitu penanaman pesan. Cara si pembuat cerita menanamkan pesan kepada penonton lah yang gw suka. Tidak ada peran antagonis di film upin ipin ini, tidak ada sosok jahat yang penuh dengan iri dan dengki. Pesan-pesan moral yang disampaikan pun sederhana dan pas untuk anak-anak. Beda dengan anime seperti naruto, one piece, dll. Cara penyampaian moralnya terlalu rumit bagi anak-anak.
Sebenarnya Indonesia pun punya karya animasi sendiri yang bisa dibilang lumayan lah. Hanya saja dari segi cerita dan penanaman pesan, menurut gw masih kurang baik dari upin ipin. Oke, ambil contoh, ada salah satu film animasi judulnya Keluarga Pak Somat (kalo ga salah namanya gitu). Karakter dari salah satu tokoh utama di film ini, si Dudung, ialah seorang anak yang cenderung bandel. Film ini memang menceritakan tentang kehidupan sehari-hari juga, namun yang membedakan ini dengan Upin-Ipin jelas dari segi nilai. Entah, tapi pernah nonton itu film, nilai yang ingin disampaikan sepertinya ga ada, cuma hiburan aja.
Kemudian ada lagi film Adit & Sopo Jarwo. Ini cerita tetang seorang anak yang digangguin mulu sama pengangguran, trus di akhir muncul Dedy Mizwar ngasi nasehat. Oke, ini ada penanaman nilai. Hanya saja dari segi pengemasan film, si tokoh yang kurang baik itu bisa dibilang ga pernah tobat lah. Meski udah apes dan udah dinasehatin sama Dedy Mizwar. Pun sama dengan film animasi Si Entong. Ceritanya tentang sosok seorang anak baik yang selalu di usili oleh temannya. Temannya ini selalu iri dan dengki dengan si Entong. Persis seperti film sebelumnya, si sosok bandel ini akan selalu gagal ngusilin si Entong, bahkan sampe kena sial dan kena omel. Namun, tetap saja tiap hari ngusilin dan ga pernah tobat. 
Karena bentuk pengemasan yang seperti itu, maka menurut gw film Upin Ipin masih jauh lebih baik dalam segi penanaman nilai. Bukan ga ada film anak Indonesia yang bagus, ada, contohnya Si Bolang, Laptop Si Unyil, dan yang semacacmnya. Memang ini bukan film animasi, ini film dokumenter, namun dari segi penanaman nilai, film-film ini bagus.
Penanaman nilai sejak kecil itu bisa jadi pondasi ketika sudah besar nanti. Memang, tidak ada yang memastikan ketika kecilnya baik besarna pasti baik, maupun kecilnya kurang baik besarnya jadi buruk. Namun, ada baiknya penanaman nilai itu dilakukan sejak kecil. Dan film, merupakan salah satu metode untuk menanamkan nilai. Maka, semoga kelak semakin banyak seniman-seniman Indonesia yang tak hanya punya skill yang bagus, namun juga punya idealisme untuk perkembangan anak Indonesia.

Minggu, 08 Juni 2014

Percakapan Dengan Malam

Hei malam,
Jangan lah kau cepat beranjak
Aku masih belum mau pagi
Bukan aku membenci pagi
Tapi belum mau saja
Ada rasa yang mengganjal
Rasa yang pernah hadir
Belasan tahun yang lalu
Ketika beranjak dari lahan
Lahan tempat menanam
Begitu aku menyebutnya
Kini pun sama
Harus beranjak pula
Dari lahan penghijauan
Begitu kini aku menyebutnya
Menuju lahan lain
Yang entah bagaimana
Rupa dan badainya
Ah, malam
Aku belum mau pagi
Belum siap
Namun semua niscaya
Harus siap, harus siap
Ya, semoga bisa kembali
Kembali menghijau di lahan ini
Dan, hai malam
Aku titip lahan itu
Dan untukmu pagi
Bawa aku nanti
Aku siap pergi

pecakapan dengan malam
dalam sebuah bilik di lahan penghijauan
07062014
.maha.

Rabu, 07 Mei 2014

Tentang Impian

Beh, udah setengah tahun ga di urus. Lama bingit. ._.

Akhir-akhir ini sering muncul twit-twit atau update status atau nasihat-nasihat dari temen atau apalah yang berbicara tentang mimpi, impian, harapan dan yang sejenisnya. Jadi tertarik untuk nulis tentang mimpi.
Alkisah ada seorang anak kecil, ia punya mimpi, ingin menjadi Presiden. Seiring berjalannya waktu, mimpi itu terus berubah sesuai kehendaknya. Maklum, masih kecil. Mimpi itu terus berubah, mulai ingin jadi penulis, politisi, hakim, pengacara, jurnalis. Dan sekarang apakah sudah terwujud? entah lah. Hahaha..
Kenapa sih kita harus punya mimpi? Karena mimpi itu lah yang membuat kita tetap hidup. Tanpa mimpi, hidup seperti hampa (ceilaah, dasar jomblo!). Simpelnya, kalau tidak ada sesuatu yang ingin dicapai, hidup cenderung monoton. Hidup pun ya sekedarnya aja, sekedar bisa nafas, sekedar bisa makan, sekedar bisa buang air, sekedar bisa tidur. Kalau tak punya mimpi, maka kita akan menjadi bagian dari mimpi orang lain.
Cerita-cerita tentang mimpi ini sudah banyak, kiat-kiatnya, dan sebagainya. Beberapa yang populer mungkin tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan trilogi Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Motivator-motivator pun menjamur, mendongeng bagaimana kita harus bermimpi. Pun sejarah mencatat, kejadian-kejadian, penemuan-penmuan semua berawal dari mimpi. Kemerdekaan Indonesia pun berawal dari mimpi, mimpi pemuda-pemuda Indonesia pada masa itu yang ingin bangsa Indonesia lepas dari penjajahan.
Nah, mimpi itu berawal dari niat. Niat ingin bermimpi, dan niat ketika mimpi sudah tercapai. Sebaik-baik niat, adalah yang diniatkan karena Allah. Maka, niatkanlah karena Allah. Terlalu percuma kalau niat kita hanya untuk urusan dunia, apalagi hanya untuk kebanggaan diri. Tak hanya di awal saja, tapi niat itu juga harus terjaga sepanjang pencapaian mimpi tadi. Kemudian hal lain yang tak kalah penting adalah yakin kalau kita mampu mencapai apa yang kita mimpikan. Ini penting, jika rasa optimis tercapai saja tidak ada, bagaimana mau mencapainya?
Terus, mimpimu apa qih? hmm. Dulu sih sempet update status di FB, kalau pada ulang tahun yang ke-(lupa) pengen dilantik jadi presiden. Haha, kebetulan hari pelantikan presiden bertepatan sama hari ulang tahun gw. Hihi, itu becandaan aja sih tapinya. Balik lagi, apasih mimpi gw? hmm, untuk jangka panjang gw pengen jadi salah satu orang yang berpengaruh dalam pengambilan kebijakan, entah itu di tingkat nasional atau provinsi, atau kota, atau bahkan tingkat RT sekalipun! hahaa. Belum fokus ya? yap, nanti difokuskan lagi. Jangka pendeknya, meniti jalan menuju mimpi jangka panjang tadi. Seperti mencari destinasi untuk lanjut studi atau kerja atau tempat mengabdi. Belum fokus lagi ya? iya, jangan ditiru ya.
Jadi, teruslah bermimpi. Mimpi akan membuatmu hidup. "Apa yang terjadi hari ini adalah mimpiku kemarin, dan yang terjadi esok adalah mimpiku hari ini", salah satu frase yang populer buat gw, dari Imam Hasan Al-Banna. Biarkan mimpi kita yang mengatur kita. Beranilah bermimpi, seperti kata Andrea Hirata, "Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu". Jangan jadikan kegagalan demi kegagalan menjadi penghambat pencapaian mimpi. "Dan mimpi tidak boleh selesai karena kegagalan", satu lagi frase yang gw percaya, lupa ngutipnya dari buku mana.

Jangan berhenti pada lamunan,
Tulislah impianmu.
Jangan berhenti pada tulisan,
Raihlah impianmu.
Jangan berhenti pada usaha,
Selipkan dalam Do'amu.