Laman

Senin, 22 Juni 2015

Season Ramadhan: Belajar Istiqomah, Istiqomah Belajar.

Ada sebuah postingan yang menarik dari salah satu grup di jejaring Line. Berikut adalah postingan tersebut:

Ya, Season Ramadhan, begitu kadang kita menyebutnya.
Yaitu ketika kita berusaha meningkatkan ibadah kita
Ketika kita berusaha meninggalkan ke-sia sia-an
Ketika kita berlomba mengoptimalkan amalan-amalan sunnah
Ya, Ramadhan.

Bukankah Ramadhan itu berkah?
Ketika di bulan lain kita lalai,
Kini kita lebih disiplin dalam beribadah
Bukankah Ramadhan itu nikmat?
Ketika di bulan lain kita sering menyiakan waktu,
Kini bahkan kita terus mengejar Ibadah sunnah.
Bukankah Ramadhan itu indah?

Maka,
di bulan ini lah kita belajar,
di bulan ini lah kita di-didik,
Belajar untuk Istiqomah,
Istiqomah untuk Belajar.
Tentang meningkatkan kapasitas diri,
Juga soal menjadi lebih baik.

Dan semoga,
Ramadhan ini menjadikan kita lebih baik dari yang lalu
Juga terus istiqomah dengan capaian saat ini.

.afm.

Minggu, 29 Maret 2015

Pinnochio: Drama Realita Media (?)

Sumber: asianwiki
Pinnochio, sebuah judul drama korea yang berkisah tentang reporter dan dapur sebuah media. Tulisan saya disini saya batasi, tidak akan membahas kisah cinta ataupun kisah keluarga yang ada, juga ga akan menceritakan bagaimana si Park Shin Hye lucu, bawel dan cantiknya beeeeeuh (ahahaha :v), juga ga akan membahas soal kebetulan yang jahat yang baiknya ternyata orang-orang dekat, dan semacamnya. Jadi ya, saya hanya ingin membahas kisah "pers"-nya saja.
Tema utama tentang media ini lah sebenernya yang membuat saya tertarik untuk menonton drama ini (iyee, karena Park Shin Hye juga :v). Awal kisah dimulai dari berita tentang kebakaran pabrik yang menewaskan beberapa orang pemadam kebakaran didalamnya. Kemudian media memberitakan bahwa kepala pemadam kebakaran saat itu lah yang harus bertanggung jawab atas meninggalnya para pemadam saat itu. Framing yang dilakukan media saat itu hanya fokus pada si kepala pemadam itu, tanpa mencari fakta sebenarnya kenapa terjadi kebakaran. Akhirnya keluarga si kepala pemadam itu hancur, si kepala pemadam itu meninggal karena kebakaran itu, sang istri bunuh diri, anak pertamanya ketika dewasa menjadi pembunuh, dan anak keduanya menjadi reporter untuk membalas dendam terhadap reporter yang dulu membuat keluarganya hancur. Begitu kira-kira kisah singkatnya, banyak detail-detail yang tidak saya ceritakan, silahkan ditonton sendiri.
Dari drama ini, diceritakan bagaimana sebuah berita di media, dengan framing dan isu yang diciptakannya bisa saja membuat orang yang tak bersalah menjadi terkena hukuman sosial, apapun itu. Memang, meski yang diberitakan bukanlah sebuah kebohongan, tetapi tetap saja menutupi fakta-fakta lain yang lebih besar. Sehingga fokus penonton tidak pada fakta besar dibelakangnya, semua terfokus pada fakta kecil yang dimunculkan. Terus menerus fokus pada hal kecil tersebut, hingga akhirnya nanti muncul sebuah isu lain yang akan menutup isu sebelumnya bersama fakta-fakta besar yang belum (dan mungkin tak kan pernah) terungkap.
Drama ini juga mengisahkan bagaimana seorang reporter harus bisa meredam segala egonya pribadinya, meredam segala inginnya, dan benar-benar menjadi seorang reporter yang berintegritas. Tidak terpengaruh masalah keluarga, kisah masa lalu, bahkan keinginan sang empunya media sekalipun. Seorang reporter harus tetap menggali segala fakta lapangan yang tersedia. Pun juga dengan si media tersebut, harus tetap memberitakan fakta-fakta yang ditemui tanpa harus tunduk pada perintah sang empunya.
Pada akhirnya, drama adalah drama. Hanya sebuah cerita karangan yang cenderung fiktif, meski kurang lebih sama dengan kenyataannya. Menemukan media dan reporter yang benar-bener berintegritas mungkin agak sulit. Semua bergulat dengan kepetingan masing-masing. Mungkin soal kuasa atau harta. Pun bukan berarti mereka menyebarkan kebohongan. Mungkin mereka benar, dengan menyampaikan fakta kecil, namun mereka abai dengan fakta lebih besar. Mungkin mereka benar menyampaikan fakta kecil, namun mereka menggeneralisir seolah semua sama.
Dengan mempelajari gerak-gerik media, framing dan isu yang dibuatnya, juga orang-orang beserta kepentingan dibelakangnya, kita dapat menilai sendiri media tersebut. Berkaca dari media-media besar di Indonesia, kita sudah dapat membaca kearah mana berita akan dibuat di tiap media. Framing apa yang diciptakan dari tiap-tiap isu, dan kepentingan apa yang dibawa dibelakangnya agaknya cukup jelas. Pada akhirnya adalah bagaimana caranya masyarakat mendapatkan hak menerima informasi yang terpercaya. Juga bagaimana frekuesi publik tidak dikuasai untuk kepentingan segolongan saja.
Masyarakat, sebagai penikmat, tentu tetap memiliki hak untuk mendapatkan informasi yang utuh dan sehat. Negara sudah menjamin hal tersebut, dengan adanya UU Pers, UU KIP, dan sebagainya. Namun memang, kenyataanya media tetap akan memilah fakta dan membuat framing sendiri untuk menggiring opini publik. Disinilah sebenarnya peran semua pihak, baik negara, media, maupun masyarakat dibutuhkan, untuk menjaga "konsumsi" informasi masyarakat agar tetap sehat.
Menjadi bagian dari media pernah menjadi impian saya dahulu sejak masih SMP (atau SD mungkin). Namun semakin saya pelajari, semakin tak mungkin saya bergabung dengan media. Sulit rasanya (bagi saya) untuk benar-benar dapat menjadi pegiat media yang berintegritas. Ah, cukuplah sekarang menjadi penikmat saja. Sesekali berdiskusi dengan kawan, untuk menjernihkan fokus. Masih teringat slogan yang saya katakan kepada adik-adik di Media BEM KMFT dulu, "Jika ada jarum jatuh di KPFT, pastikan seluruh masyarakat teknik tau, ingin tau kebenarannya, dan percaya dengan yang informasi kalian". Itu saya adopsi dari kakak angkatan di Media BEM dengan sedikit perubahan.

Sabtu, 06 Desember 2014

Pelangi Senja

Aku melihat pelangi, 
ia tampak di horizon sebelah timur.
Berkanvaskan langit mendung nan kelabu, 
warna warni pelangi itu tampak padu menyatu, indah.
Seketika berkelebat beberapa frasa soal pelangi, 
frasa pelangi setia menunggu hujan reda.
Juga beberapa frasa romantis lain.
Dan kemudian rerindang pohon menutup pandanganku dengan pelangi.
Ufuk sebelah barat, tak mau kalah langit cerah senja juga memamerkan pesonanya.
Langit masih cukup cerah memantulkan sinar mentari
Indah sekali sore itu.
Paduan hujan rintik, sedikit mendung, berhias pelangi di timur
Dan langit senja cerah di sisi lainnya
Tampak begitu harmoni, indah.
Bukan saling meniadakan.

Aku sudah selesai dengan diriku
Dengan rintik mendung dan pelangi
Juga cerah langit di seberang

Aku sudah selesai dengan diriku
Dengan harmoni berpadu
Bukan bertanding mengalahkan

Aku sudah selesai dengan diriku
Karena cinta bukan pertandingan

Aku sudah selesai dengan diriku

Sabtu, 6 Desember 2014
saat langit berganti nahkoda
menjadi purnama yang tak kalah eloknya
.maha.

Senin, 27 Oktober 2014

Memori Sunyi

Gaduh,
Tahun yang sangat gaduh
Begitu yang tampak didepanku
Begitu gaduhnya,
Hingga akupun bersembunyi
Tak tertarik lagi berjejaring maya
Aku ingat,
Masa ketika maya tak segaduh kini
Maya yang pernah menjadi tempat cengkrama
Bukan tempat saling hina
Aku ingat,
Masa yang lebih gaduh dari kini
Ketika sang penguasa jatuh dari tampuknya
Huruhara melanda penjuru negara
Namun aku tak merasakan gaduhnya
Ya, Tak terasa dan tak peduli
Ah iya, aku hanya anak kecil saat itu
Aku sibuk, sibuk bermain
Sibuk menjadi sesosok anak kecil
Yang jauh dari gaduhnya masa itu
Aku rindu,
Rindu menjadi anak kecil
Yang sibuk bermain belajar bermimpi
Polos tak mengerti dan tak peduli
Dengan gaduh bisingnya orang dewasa
Ya,
Aku ingat masa itu,
Aku rindu masa itu.

271014
di pinggiran kegaduhan
.maha.

Senin, 20 Oktober 2014

Memaknai Hari Lahir

Hari lahir, umumnya ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh setiap mereka yang telah terlahir. Berbagai pesta, mulai dari pesta mewah hingga yang sekedarnya tak jarang dihelat untuk merayakan momen hari lahir tiap tahunnya. Untaian kata selamat dan doa juga bertubi-tubi di ucapkan oleh rekan dan keluarga, untuk kesehatan dan segala rezeki dimasa mendatang. 
Kemudian, apa sebenarnya makna dari hari lahir itu? untuk apa ritual tahunan tersebut dirayakan? adakah hikmah-hikmah yang bisa kita ambil daripada sekedar menjalankan ritual atau gengsi? Pada dasarnya tiap-tiap individu memiliki pemaknaan masing-masing terhadap datangnya hari lahir. Dan disini, saya ingin mencoba menuliskan beberapa pemaknaan dari umumnya yang sering saya dengar.
Momen hari lahir adalah momen berkurangnya masa hidup. Setiap yang bernyawa pasti akan mati, begitu firman Allah di dalam Al-Quran (3:185). Maka, banyak yang memaknai hari lahir sebagai berkurangnya jatah hidup didunia, dan semakin dekat pula dengan ajal yang kita tak pernah tahu kapan akan datang. Pada akhirnya, hari lahir ini menjadikan ajang muhasabah bagi mereka, tentang bekal apa yang sudah mereka siapkan untuk menjemput ajalnya kelak.
Kemudian, momen bertambahnya umur juga dimaknai dengan keharusan untuk menjadi lebih baik. Maksudnya disini adalah, seiring bertambah umur, maka (seharusnya) hal-hal baik yang kita lakukan haruslah bertambah. Menjadikan diri kita (setidaknya) lebih baik dari tahun sebelumnya.
Dua pemaknaan itu adalah yang paling umum sekali saya dengar. Selanjutnya adalah pemaknaan yang pernah saya baca, entah dimana saya lupa, yaitu hari lahir adalah hari dimana Ibu kita menahan sakit, antara hidup dan mati, demi melahirkan kita. Demi melahirkan kita anaknya, yang ia harapkan menjadi anak yang sholeh/sholehah, yang menyejukkan siapa saja yang memandang, dan harapan-harapan baik yang lain.
Ya, hari lahir kita adalah hari dimana ibu kita merasakan sakit yang amat sangat demi lahirnya kita. Sang ayah pun tak kalah bingung soal keselamatan ibu dan anaknya, juga biaya yang tak sedikit. Anak yang akan mereka besarkan nantinya, dengan segala harap soal baktinya kelak. Anak yang kemudian diberi nama yang menjadi harapan dan doa mereka. Maka, di hari lahir ini sudahkah kita menjadi seperti yang mereka harapkan? Pantaskah dihari lahir kita, kita justru meminta uang kepada orang tua untuk berpesta dengan teman, hanya karena gengsi atau semacamnya? Ah, sejujurnya sangat tak pantas bagi saya menulis paragraf diatas. Karena saya pun jauh dari kata "sesuai dengan yang mereka harapkan". Semoga Umi dan Abi disayang Allah :)
Pemaknaan berikutnya saya kutip dari website Salimah, yaitu mengenai tiga makna hari lahir.
  1. Wulidna bil mahabbati warahmah, kita lahir dengan membawa misi penyebar kasih sayang. Kita terlahir karena kasih sayang kedua orang tua kita, dan kita pun terlahir dengan untuk membawa misi rahmatan lil'alamin.
  2. Wulidna bil izzati walkaramah, kita lahir dengan kehormatan dan kita lahir untuk meraih kemuliaan. Kita lahir dengan kehormatan (QS 63:8), dan lahir untuk meraih kemuliaan (QS 17:70)
  3. Wulidna bil amanati wal masuliyah, kita lahir untuk mengemban amanah dan memikul tanggung jawab. Kita lahir mengemban amanah untuk beribadah (QS 51:56) dan sebagai khalifah di muka bumi (QS 2:30). Kita pun terlahir untuk memikul tanggung jawab (QS: 33:72) dan kelak akan dimintai pertanggung jawabannya (QS 17:36). Maka jangan sekali-kali kita mengkhianati amanah dan tanggung jawab tersebut (QS 8:27)
Pada akhirnya, pemaknaan mengenai hari lahir ini pun kembali ke diri kita masing-masing. Sebagai apa dan bagaimana hari lahir itu dimaknai. Adakah ia berupa muhasabah mengenai datangnya ajal, bertambahnya kebaikan, birrul walidain juga amanah dan tanggung jawab kita sebagai manusia. Ataukah ia sekedar menjadi perayaan ritual tahunan saja, rutininas tiap tahunnya tanpa ada satupun kebaikan didalamnya. Tulisan ini pun pada dasarnya adalah refleksi bagi saya sendiri, sudahkah saya? 
Saya percaya, masih banyak lagi makna-makna yang baik mengenai hari lahir. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang pandai mengambil hikmah.

Wallahu a'lam.

Selasa, 16 September 2014

(Review) Max Havelaar; Cerita Kejamnya Kolonial

Yak, akhirnyaaa, setelah berbulan-bulan selesai juga gw baca buku Max Havelaar. Dan mau cerita sedikit deh tentang buku itu.

"Kisah yang 'membunuh' kolonialisme."--
--Pramoedya Ananta Toer (New York Times, 1999)

Buku Max Havelaar dikarang oleh Multatuli, atau lebih kita kenal dengan nama Eduard Douwes Dekker (1820-1887). Douwes Dekker ini petama gw kenal ya di buku sejarah jaman SMP dulu, yang bikin Indische Partij, bareng sama Tjipto Magunkusumo dan Ki Hajar Dewantara (oke dua nama ini gw googling dulu, lupa broo :v). Jadi si Multatuli ini dia mengabdi sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda selama 18 tahun.
Sebelum masuk ke isi buku, tak tulis dulu deh apa yang ada di sampul belakang buku, semacam ringkasan dari penerbitnya.
Max Havelaar, ditulis oleh Eduard Douwes Dekker, mantan Asisten Lebak, Banten, pada abad ke-19. Douwes Dekker terusik nuraninya melihat penerapan sistem tanam paksa oleh pemerintah Belanda yang menindas bumiputra. Dengan nama pena Multatuli, yang berarti aku menderita, dia mengisahkan kekejaman sistem tanam paksa yang menderita. Mereka diperas oleh kolonial Belanda dan pejabat pribumi korup yang sibuk memperkaya diri. Hasilnya, Belanda menerapkan Politik Etis dengan mendidik kaum pribumi elite sebagai usaha "membayar utang mereka kepada pribumi.
Begitu yang tertulis pada lembar belakang cover, cukup menarik buat gw. Nah, sebelum gw nyeritain isi ini buku versi gw, gw mau bilang dulu kalo daya tangkep gw terhadap isi buku itu masi cukup lemah. Bahasanya masih terlalu ribet buat gw, Jadi kalau ada salah tafsir dari gw, ya maap, bukan salah bukunya. :v ahaha..
Oke, seperti yang gw bilang tadi, ini buku ribet banget ceritanya. Awal cerita berkisah tentang Droogstoppel, seorang makelar kopi di Belanda sana yang pragmatis. Bab-bab awal benar-benar seperti diary yang ditulis sendiri oleh Droogstoppel, menceritakan tentang dirinya, keluarganya, dan usahanya. Yang kemudian Droogstoppel itu ketemu dengan Sjalmaan. Sjalmaan ini punya semacam naskah cerita, Droogstoppel pun menyuruh Stern, salah satu anak dari koleganya yang kerja untuknya, buat nulis naskah dari Sjalmaan buat dibukunya. Bab-bab awal benar-benar bercerita tentang Droogstoppel tadi. Dan jalan ceritanyapun tidak semulus yang gw tulis di atas. Cukup ribet buat gw untuk faham, jadi ya cuma gw tulis singkatnya aja, seperti di atas.
Lanjut bab pertengahan hingga akhir buku menceritakan tentang paket naskah dari Sjalmaan, yang didalam buku ini ditulis oleh Stern. Baru lah dari bab pertengahan ini muncul Max Havelaar. Bab yang ditulis oleh Stern ini sudah tidak lagi dengan gaya bahasa diary satu orang, tapi udah gaya bahasa orang ketiga. Cerita tentang Max Havelaar ini dimulai dari dia dilantik menjadi Asisten Residen Lebak. Lebak ini sendiri merupakan daerah yang sangat miskin, namun Bupatinya yang merupakan orang pribumi sangat berkecukupan bahkan bisa dibilang berlebihan.
Jadi, diceritakan bahwa Bupati Lebak (orang pribumi) ini cukup semena-mena, dengan mudahnya ia merampas segala milik rakyat atau dibeli dengan harga yang tak pantas, entah itu ternak ataupun hasil perkebunan. Hasilnya warga banyak yang merasa tertindas. Pemerasan semacam ini dibiarkan oleh Residen Banten (orang belanda), yang hanya menceritakan kedamain dalam laporannya ke Gubernur Jendral Hindia Belanda (orang belanda).
Singkatnya, sebagai Asisten Residen Lebak, Max Havelaar ini banyak menerima aduan dari masyarakat mengenai ketidakadilan penguasa yaitu si Bupati Lebak. Max Havelaar pun ngelapor ke Residen Banten buat memecat si Bupati Lebak, dan juga ngelapor ke Gubernur Jendral Hindia Belanda. Permintaan Max Havelaar ditolak, dan dia diberhentikan sebagai Asisten Residen Lebak dan setelah itu dia berhenti sebagai Asisten Residen.
Dan barulah di Bab terakhir, Multatuli muncul, dan menegaskan bahwa bukunya ini memang terlihat tak terkonsep dan berantakan, namun soal penindasan yang terjadi oleh kolonial Belanda dan pribumi korup ialah benar, dan memang itu yang ingin dia tunjukkan dalam bukunya. Penindasan dan pemerasan terhadap masyarakat.
Nah, begitulah kira-kira isi bukunya. Memang cukup sulit buat gw cerna karena memang agak berantakan. Kemudian, gw percaya bahwa Sejarah itu bergantung dengan siapa yang menulis. Maka, gw rasa masih banyak yang kurang dari kisah-kisah pemerasan zaman kolonial. Di buku tersebut hanya diceritakan bahwa sang Bupati yang orang pribumi lah yang melakukan penindasan, sementara "dosa" dari seorang Residen dan Gubernur Jendral yang orang Belanda hanya seolah membiarkan hal tersebut.
Yap, segini aja dulu deh review dari gw mengenai buku ini. Sekali lagi gw tegaskan kalau gw susah mencerna isi dari buku ini, jadi bagi temen-temen yang sudah membaca dan ingin menyanggah apa yang gw tulis, silahkan saja. Bagi yang belum baca, silahkan baca :P

Jumat, 12 September 2014

Bahagia itu Sederhana

Tulisan ini berawal dari bincang sederhana, dengan seorang sahabat. Yap, tentang bahagia. Bincang kami sederhana, menyoal masa depan. Masa dimana tak bisa kita prediksi, hanya Allah yang Maha Mengatahui lah yang mengerti soal masa depan. Manusia cukup berencana, berusaha, dan berdoa, sisanya biar menjadi rahasia Allah SWT. Frase yang sangat umum sekali kita deng
ar.
Bincang kami terus berlanjut, hingga soal takut masa depan. Kesimpulan kami, takut masa depan sama saja seperti kita tidak percaya sama Allah. Yap, jika memang kita beriman kepada Allah, tak perlu takut soal masa depan. Allah sudah menyiapkan semuanya, soal rezeki, jodoh, semua. Kembali, tinggal bagaimana kita berusaha dan meminta kepadaNya.
Dan pada akhirnya, bincang berlanjut menyoal makna bahagia. Bahagia itu seperti apa? begitu pertanyaan kami. Jika memang bahagia itu soal materi, maka bisa saja orang itu tak kan pernah bahagia, karena pada dasarnya ia tak kan pernah puas dengan apa yang ia miliki. Yap, mungkin definisi bahagia tiap orang berbeda, maka, buatlah definisi yang tepat untuk bahagia itu. Defisini yang benar-benar dapat membuat kita bahagia, bukan yang membuat kita sengsara mencari bahagia.
Kesimpulan kami soal makna bahagia ialah tentang syukur. Bahagia ialah bagaimana kita bersyukur. Bersyukur dengan apa yang kita dapat. Seperti Firman Allah dalam surah Ibrahim ayat 7, bahwa Allah akan menambah nikmat jika kita bersyukur kepadaNya. Kesimpulan kami bahwa jangan tunggu bahagia untuk bersyukur, bersyukurlah maka kamu akan bahagia.
Wallahu a'lam.