Laman

Senin, 28 Oktober 2013

Pemuda Pejuang

Yap, udah lama ga diurus ini blognya. haha. Tapi Alhamdulillah sih, meski ga nulis blog,  4 bulan kemarin ini sudah berhasil menelurkan 2 literatur buat jurusan. Semoga menjadi manfaat deh ya. :)

Kali ini sih bukan cuma mau posting tulisan aja, mau posting desain juga. mumpung hari sumpah pemuda. :)


Begitulah hakikatnya pemuda, bersamanya Ilmu dan Taqwa. Dan mari sejenak lihat kedalam diri, pantaskah kita disebut pemuda? sudahkah kita benar-benar menjadi seorang pemuda?
Miris, ketika banyak yang masih beranggapan kalau masa muda identik dengan foya dan pesta. Terlalu percuma jika energi muda tersebut hanya habis untuk hal kurang bermanfaat tersebut.
Masih dalam suasana Dzulhijjah, bagaimana cerita keluarga Ibrahim yang selalu dapat dijadikan hikmah. Isma'il, sosok pemuda yang selalu mengedepankan Taqwanya. Ketika tanpa ragu dia rela menjadi qurban yang menjadi perintah Allah kepada dirinya. Juga kisah Ibrahim muda, yang dengan ilmunya dia melawan tirani Raja Namrud.
Bagaimana seorang Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Ammar bin Yasir, Abdullah ibnu Abbas, dan pemuda-pemuda lainnya pada zaman Rasulullah menjadi bagian dari perjuangan perkembangan Islam di masanya. Tentu juga dengan bekal Ilmu dan Taqwa.
Juga kisah seorang Muhamman Al Fatih, di usianya yang ke-23 tahun berhasil menaklukkan benteng Konstantinopel. Benteng yang sejak zaman Rasulullah belum berhasil ditembus oleh pasukan Muslimin.
Dan masih banyak lagi pemuda-pemuda muslim yang dengan Ilmu dan Taqwanya mereka berhasil menumpas tirani, dan kemudian menjadi hikmah bagi pemuda-pemuda setelahnya.
Tak perlu jauh, kemerdekaan Indonesia pun lahir berkat semangat para pemuda-pemuda muslim yang gerah dengan tirani kompeni. Ya, tentu dengan Ilmu dan Taqwa. Pemuda-pemuda ini kemudian bersatu dan berhasil mengusir penjajah.
Nah, tentu kisah-kisah pemuda yang berjaya, yang tercatat dalam sejarah dan kemudian menjadi hikmah, bukanlah pemuda yang kesehariannya dihabiskan untuk hal-hal yang sepele. Ah, lihat sejenak kedalam diri kita. Masihkah begitu?
Indonesia kedepannya dipimpin oleh pemuda-pemuda sekarang. Jika memang masih menghabiskan energi muda untuk berfoya, maka semoga kita bukan menjadi sandungan para pemuda yang sedang berjuang menyelamatkan Indonesia.
Jika kita bukan bagian dari pemuda penyelamat tersebut, berharaplah bukan menjadi penghambat, jika memang masih cinta Indonesia.
Kembali lagi keatas, hakikat pemuda adalah Ilmu dan Taqwa. Semoga kita masih bisa disebut pemuda. Dan tentu, yang menjadi bagian dari perjuangan.

Ya Allah, hadirkanlah sosok-sosok Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Ammar bin Yasir, Abdullah ibnu Abbas, dan sosok-sosok pemuda zaman Rasulullah SAW di Indonesia ini.
Ya Allah, hadirkanlah sosok Muhammad Al Fatih dari bangsa ini.
Ya Allah, hadirkanlah kembali sosok pemuda-pemuda pejuang kemerdekaan Indonesia di negeri ini.
Ya Allah, jadikanlah Ilmu dan Taqwa senantiasa menghiasi hari-hari kami.
Ya Allah, jadikanlah kami bagian dari pejuang, bukan penghabat pejuang.

Selamat mengenang perjuangan pemuda pendahulu.
Selamat menjadi pemuda.
Selamat berjuang.

Minggu, 19 Mei 2013

Belajar dari Sejarah?

Jadi ceritanya gw baru selesai baca buku Api Sejarah yang pertama, bukunya Ahmad Mansur Suryanegara. Dan kebetulan bertepatan juga dengan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, jadilah gw mau soksokan bikin tulisan. Hhe.

Dulu waktu di SMA, guru sejarah gw mengenalkan sebuah frase yang diungkapkan oleh Cicero, Historia Vitae Magistra. Artinya adalah Hidup Guru Sejarah!! eh salah, artinya adalah Sejarah Guru Hidup. Nah, Kita percaya bahwa dari sejarah kita dapat belajar, dari kejadian-kejadian masa lalu kita dapat mengambil ibrahnya yang kemudian menjadi pertimbangan kita untuk menjalani masa depan.
Penulisan sejarah sendiri bergantung dari siapa yang berkuasa. Ketika Indonesia masih diduduki oleh Kolonial Belanda, maka jelas, penulisan sejarah Indonesia saat itu bergantung pemerintah Kolonial Belanda. Jelas, penulisan sejarah yang sangat diutamakan adalah dengan membentuk opini yang baik terhadap mereka pribumi yang kooperatif dengan pemerintahan Kolonial Belanda.
Begitupun dengan penentuan Hari Kebangkitan Nasional Indonesia, yang di ambil dari hari terbentuknya organisasi Boedi Oetomo, 20 Mei 1908. Penentuan Harkitnas sendiri dilakukan pada masa Kabinet Hatta (1948-1949 M). Ketika itu Kabinet Hatta sedang mendapatkan serangan balik dari pelaku Koedeta 3 Juli 1946, yakni Tan Malaka dan M. Yamin dalam pembalaannya di Pengadilan Negeri, yang dinilai oleh Kabinet Hatta dapat menumbuhkan perpecahan bangsa yang sedang menghadapi Perang Kemerdekaan (1945-1950 M). Oleh karena itu, dirasa perlu oleh Kabinet Hatta membangkitkan kembali kesadaran nasional melawan penjajah, maka dipilihlah 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional yang merupakan tanggal berdirinya Boedi Oetomo.
Dan kemudian berkembanglah cerita-cerita sejarah yang tertulis dalam buku-buku sejarah di sekolah-sekolah, bahwa Boedi Oetomo merupakan organisasi pertama yang didirikan oleh bangsa Indonesia yang merupakan tonggak dari bangkitnya kesadaran nasional untuk melawan penjajah. Namun, pada kenyataannya, organisasi Boedi Oetomo adalah organisasi yang tidak dapat dibilang representasi bangsa Indonesia secara umum, karena keanggotaan Boedi Oetomo bersifat eksklusif, hanya beranggotakan bangsawan-bangsawan Jawa.
Pada Algemene Vergadering (Rapat Umum) Boedi Oetomo di Bandung, 1915 M, sikap Djawanisme Boedi Oetomo semakin dipertegas. Hal ini dikarenakan Hoofdbestuur (Ketua) terpilih, R. Sastrowidjono, meminta para hadirin menyerukan: Leve pulau Djawa, Leve bangsa Djawa, Leve Boedi Oetomo (Hidup pulau Jawa, Hidup bangsa Jawa, Hidup Boedi Oetomo). Bahkan pada Kongres Boedi Oetomo di Surakarta (6-9 April 1928), memutuskan bahwa Boedi Oetomo menolak cita-cita persatuan Indonesia (Mr. A. K. Pringgodigdo, 1960, Sedjarah Pergerakan Rakjat Indonesia).
Sementara itu beberapa tahun sebelum Boedi Oetomo berdiri, H. Samanhoedi membentuk organisasi Sjarikat Dagang Islam, yaitu pada tanggal 16 Oktober 1905. Pembentukan organisasi tersebut merupakan respon menghadapi tantangan imperialisme modern. Organisasi ini tidak bersifat kooperatif dengan pemerintahan kolonial. Kemudian pada tahun 1906, H. Samanhoedi mendirikan Sjarikat Islam. Namun banyak sejarawan yang menuliskan bahwa SI didirikan pada 10 September 1912, yaitu pada saat memperoleh badan hukum di bawah pimpinan Oemar Said Tjokroaminoto.
Pada tanggal 17-24 Juni 1916, Sjarikat Islam mengadakan National Congres Centraal Sjarikat Islam Pertama (1e Natico). Kongres tersebut menghasilkan keputusan menuntut Indonesia merdeka dengan istilah Pemerintahan Sendiri (Zelf Bestuur). Bandingkan dengan keputusan Boedi Oetomo pada Kongresnya di tahun 1928 di atas. Pada National Congres Centraal Sjarikat Islam Keempat (4e Natico) di Surababaya, 1919, anggota yang hadir sebanyak 2,5 Juta orang. Di umurnya yang ke7 setelah memperoleh badan hukum, SI benar-benar telah membangkitkan kesadaran nasional untuk menghadapi penjajahan kolonial Belanda. Pengaruhnya meluas tak hanya sebatas Pulau Jawa saja.
Nah, selesei dulu cerita-ceritanya. Sekarang berkaca dari realita sejarah di atas, pantaskah kelahiran Boedi Oetomo dijadikan suatu momentum kebangkitan nasional? Selain itu, sepak terjang SI pun tampak tak begitu dominan dalam cerita-cerita di buku sejarah sekolah-sekolah. Mengapa? apakah karena SI yang sedari awal terbentuk sudah anti kolonial? atau karena yang menggerakkan kesadaran nasional itu adalah ulama-ulama di SI? Begitulah sejarah, ia diceritakan sesuai dengan si empunya kuasa. Digunakan untuk membentuk opini secara massal. Maka pantaslah hingga saat ini perjuangan para ulama-ulama dalam menegakkan kedaulatan NKRI tidak begitu terdengar, karena memang begitu inginnya.
Kembali lagi ke kebangkitan, bukannya mau mempersalahkan ataupun menuntut untuk di ganti tanggal perayaannya, tapi adalah baik jika kita mengkaji lagi sejarah yang ada. Membaca sejarah secara utuh, untuk kemudian kita ambil pelajaran darinya. Bahwa sedari dahulu campur tangan asing selalu saja ada demi keuntungan mereka dan penguasa saja. Bahwa penguasa dapat membentuk opini massal dan dapat membuat biasnya informasi yang dapat di terima masyarakat. Dan pelajaran-pelajaran lainnya.
Mungkin kalian lebih tau bagaimana caranya agar Indonesia dapat terus bangkit, mungkin kalian juga sudah sering berkontribusi bagi negara ini dibandingkan dengan gw. Dan semoga kebangkitan Indonesia tak hanya berujung pada orasi, tulisan, ataupun pidato-pidato di hari kebangkitan nasional ini, namun juga benar-benar dapat menjadikan Indonesia ini berkeadilan. Ya, bangkitlah negeriku, harapan itu masih ada!!

Rabu, 15 Mei 2013

Potret Kedamaian

Pengen coba berbagi tentang salah satu nasyid dari Gradasi, judulnya Potret Kedamaian. Liriknya begini:

Potret Kedamaian

Kaki kecil melangkah menapak bumi yang indah
Seakan tiada beban hidup di dunia
Wajah polos yang cerah menyapa ramah sesama
Angin lembut menerpa selembut hatinya

Oh indahnya hidup seperti mereka
Yang tiada dengki, iri hati damainya
Anak - anak di desa yang riang main bersama
Anugerah Yang Maha Kuasa menghias dunia

Andaikan kita bersikap mampu setulus mereka
Yang tak kenal ketamakan hanya cinta kebenaran
Andaikan kita melihat mampu sejujur mereka
Yang tak kenal perpecahan hanya cinta kedamaian

Hmm, entah kenapa pengan aja berbagi cerita dengan nasyid itu. Yang menceritakan anak-anak kecil yang polos, belum ternoda oleh dunia. Yang difikiran mereka hanya bermain bersama kawan. Asal senang tiap hari. Belum ada beban ini dan itu. Ga ada juga yang namanya dengki, iri hati, tamak, apalagi perpecahan.
Enak aja gitu kayaknya jadi mereka, ga ada iri dengki. Damai aja rasanya. Main bareng teman. Ga ada beban. Abisan sumpek aja gw ngeliyat berita-berita, entah yang mana yang bener. Semua saling serang. Udah ga ada lagi yang namanya cinta kebenaran dan cinta kedamaian. Pun kita dibiaskan dengan yang mana yang benar. Karena ketamakan terus diutamakan, pada akhirnya saling memecah belah.
Kembali ke nasyid di atas, ah, andaikan kita bisa setulus mereka. sejujur mereka. Tak kenal ketamakan apalagi perpecahan. Hanya cinta kebenaran dan cinta kedamaian.

Jumat, 12 April 2013

Yuk Berdo'a

Oke, ini blog belom ada postingan baru setelah beberapa bulan. Ga produktif ya gw. hahaa. Dan malem ini selagi gw gabisa tidur dan mumpung jogja lagi ujan (apa hubungannya cobaa), gw mau posting sesuatu. Hmm, jadi ceritanya sekedar posting dulu dah. Biar ada yang baru di blog ini. hehe..

Postingan kali ini singkat aja, gw cuma mau nulis pesan dari Abi kemarin itu.
Berdo'alah. karena saat kita berdo'a, saat itu lah kita percaya bahwa Dia Maha Perkasa dan kita hanyalah hambaNya yang tak ada daya.
Hmm, begitulah kira-kira. Kayaknya sih redaksinya kemaren pas si Abi chat ga kayak gitu, tapi intinya gitu. Bahwa kita ini bukan apapa dibandingkan denganNya.
Jadi ya jangan malu berdo'a, minta sebanyak-banyaknya sama Allah. Jangan tanggung-tanggung kalau berdo'a. Do'akan juga saudara-saudara kita dalam kebaikan, karena kalau kita mendoakan mereka tanpa sepengetahuannya, I.Allah, akan mustajab.

Yak, segitu dulu postingan gw kali ini. Semoga bisa jadi pengingat buat kita semua (khususnya buat gw). :3 haghaghag..

Minggu, 06 Januari 2013

Islam dan Zaman Modern

Oke, kali ini gw kembali dengan tulisan sotoy gw. Sebuah pemikiran yang sangat sotoy. Haha. Jadi ini tuh dulu gw bikin buat bantuin PR Agamanya temen gw. Daripada sayang tulisannya, mending tak post disini aja dah. :3


Sejauh mana peran iman dan taqwa dalam kehidupan modern. Pertama kita harus definisikan dulu apa itu iman dan apa itu taqwa. Kita ambil definisi yang paling sederhana. Iman adalah percaya. Mengacu pada rukun iman yang 6, maka dapat didefinisikan (secara sederhana) lagi seperti berikut:
1. Iman kepada Allah, artinya percaya bahwa Allah itu ada. Sederhananya seperti itu. Percaya bahwa Allah lah Sang Maha Segalanya. Percaya bahwa ada Allah yang selalu melihat apa yang kita perbuat. Percaya bahwa ada Allah yang mendengarkan doa-doa kita.
2. Iman kepada Malaikat. Sederhananya, percaya bahwa ada makhluk ciptaan Allah bernama malaikat. Yang selalu bertasbih dan taat kepada Allah. Yang salah diantaranya bertugas untuk mencatat segala perbuatan kita, mengadili kita, bahkan mencabut nyawa kita.
3. Iman kepada Kitab Allah. Percaya bahwa ada wahyu-wahyu Allah yang terangkum dalam kitab-kitabNya. Mulai dari Taurat, Zabur, Injil, dan terakhir AlQuran sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Percaya bahwa di dalam kitab tersebut terdapat wahyu Allah tentang tata cara hidup, pedoman hidup.
4. Iman kepada Nabi dan Rasul Allah. Percaya bahwa ada manusia-manusia yang dipilih oleh Allah untuk menyampaikan berita gembira. Percaya bahwa Rasulullah di utus untuk menyempurnakan akhlaq manusia.
5. Iman kepada Hari Akhir. Percaya bahwa hari akhir itu pasti datangnya. Percaya bahwa hidup tak hanya di dunia, tapi ada kehidupan lain setelah di dunia.
6. Iman kepada Qada dan Qadar. Percaya bahwa takdir Allah itu ada, sudah tertulis di lauhul mahfudz.
Sederhananya seperti diatas. Kemudian Taqwa, kembali di definisikan secara sederhana, bahwa Taqwa adalah mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah.
Kemudian apa peran itu semua di kehidupan modern? Jika yang dimaksud dengan zaman modern itu adalah saat ini, maka jika melihat realita yang ada bisa dibilang kehidupan sekarang jauh dari iman dan taqwa. Di Indonesia Korupsi dimana-mana, kemiskinan semakin menjadi, ketidak adilan proses hukum, degradasi moral dan sebagainya. Manusia masih hidup untuk memenuhi kebutuhan duniawi. Uang menjadi tuhan. Rela melanggar perintah Allah demi uang. Dan pada akhirnya? dunia tak lebih dari sekedar ajang untuk memuaskan hasrat pribadi.
Kita ambil contoh salah satu produk zaman modern, bunga pinjaman atau riba. Jelas-jelas di AlQuran tertera bahwa jauhi riba. Jika memang kita benar-benar beriman dan bertaqwa, maka tentu kita akan menjauhi riba. Namun realitanya? masih banyak orang yang melakukan riba. Tentu saja riba ini semakin memiskinkan mereka yang miskin.
Tak usah lah ambil contoh yang jauh, yang paling dekat, Mahasiswa. Sudah sepatutnya mahasiswa jujur dan tidak berbuat curang ketika ujian. Namun realitanya? tak sedikit yang melakukan kecurangan. Alhasil nilai yang ia dapat pun hasil berbuat curang dan tidak berkah, lulus dengan nilai yang tidak berkah, mendapatkan kerja dengan nilai tidak berkah, dan pada akhirnya memberi nafkah dari nilai yang tidak berkah juga. Selesai disitu? tidak. Karena sudah biasa melakukan kecurangan-kecurangan yang dianggap kecil dan hal yang umum di lingkungannya, maka bukan tak mungkin dia akan terus berbuat tidak jujur dan kecurangan-kecurangan lainnya.
Tentu lain halnya jika iman dan taqwa benar-benar ada, mahasiswa tersebut akan senantiasa berbuat jujur. Dan hingga akhir hayat pun, jika iman dan taqwa terus melekat di dalam dirinya, maka dia pun akan terus berbuat jujur. Bayangkan jika seluruh masyarakat berlaku jujur, maka tak akan ada lagi korupsi, tak akan ada lagi penipuan, dan sangat mungkin tercipta masyarakat yang adil dan sejahtera.
Berbekal iman dan taqwa, maka manusia akan patuh. Kenapa? Karena dia percaya bahwa Allah melihat segala perbuatannya, percaya bahwa ada malikat yang senantiasa mencatat amal-amalnya, percaya bahwa pada akhirnya ada hari dimana dunia ini berakhir. Dengan begitu, manusia akan berhati-hati dalam bertindak dan cenderung menjauhi hal-hal yang tidak di Ridhoi oleh Allah, termasuk kecurangan tadi. Disitulah letak peranan iman dan taqwa. Sebagai pondasi dalam membangun zaman, membangun peradaban. Dengan kembali pada unsur-unsur rukun iman dan ketaqwaan, maka sangat mungkin tercipta suatu peradaban yang madani. Wallahu A'lam.
Kemudian pertanyaan selanjutnya, apakah islam bertentangan dengan zaman modern? kembali jika definisi dari zaman modern itu adalah saat ini, maka dari realita yang terjadi bisa saya katakan bahwa zaman modern bertentangan dengan islam. Saya balik pernyataan di atas tadi, bukan Islam yang bertentangan dengan zaman modern, tetapi zaman modern lah yang bertentangan dengan Islam.
Kita lihat realita di lapangan, dunia di pimpin oleh dua kutub faham. Liberalis dan Sosialis. Faham yang ujungnya kembali pada materialisme. Hasilnya? dengan faham liberalismenya, sistem kapitalis berkembang yang mengakibatkan kesenjangan dalam struktur sosial. Dimana kaum borjuis berkuasa di atas ketertindasan para proletar. Sementara faham sosialis, atas dasar kesetaraan maka pemerintah dapat memeras milik rakyat untuk negara.
Kemudian dimana letak Islam? Islam berada di antara keduanya. Hal-hal yang baik dari dua faham tersebut ada di dalam islam, namun yang buruk-buruknya tak ada. Islam mengajarkan kita untuk fastabiqul khairat, berlomba-lomba untuk kebaikan. Islampun tetap mengajarkan kita untuk terus berlomba mencari rizqi (seperti kaum kapitalis), tentu dengan cara-cara yang halal dan di ridhoi Allah. Tetapi tak lupa, dari rizqi yang didapat terdapat hak-hak mereka para kaum proletar atau lebih luas disebut mustahik (seperti kaum sosialis). Sederhananya seperti itu.
Bicara moral, zaman modern seperti sekarang degradasi moral kian terjadi. Kejujuran menjadi hal yang langka. Apa yang terjadi? kacau. Kembali, korupsi dimana-mana. Kecurangan menjadi hal yang lumrah. Tak ada rasa takut akan adzab Allah. Tak ada penyesalan yang tampak dari para pejabat-pejabat yang korupsi, bahkan bisa sebegitu santainya.
Disinilah tantangannya, di zaman globalisasi yang semakin bebas ini, perlunya nilai-nilai Islam masuk. Tak hanya kedalam diri pribadi, namun juga sampai kepada tatanan negara bahkan dunia. Tak perlulah kita langsung bermuluk-muluk untuk membentuk tatanan dunia baru dibawah syari'at Islam, cukup dengan menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Jujur, adil, peduli, disiplin, dan lain sebagainya.
Nah, mari kita bawa zaman modern ini penuh dengan nilai-nilai Islam. Agar kelak tercipta tatanan dunia baru, dunia yang madani. Muluk memang, tapi tak ada salahnya bercita. Wallahu A'lam.

Minggu, 16 Desember 2012

Cerita 2012 (3): Cermin, Mimpi, Baru

Sampailah kita di cerita 2012 gw yang terakhir. Yang mau liyat cerita sebelumnya, yang pertama disini, yang kedua disini.
Dicerita terakhir ini yang gw tulis adalah beberapa hal-hal yang gw sadari selama tahun 2012 (1433H). Yang pertama, mungkin gw sekarang adalah orang yang abu-abu. Gw ibaratkan sih kayak gitu. Kenapa? karena gw sudah tidak putih lagi, dan belum terlalu hitam. Terkadang gw berfikir, kenapa gw ga jadi orang yang biasa-biasa aja. Yang ga faham betul tentang da'wah dan segala tuntutannya. Kenapa ga gw adalah orang-orang yang didekati untuk di ajak, jadi orang 'ammah. Atau kenapa gw ga bisa jadi orang-orang itu yang dengan mudahnya keluar dari jalan ini. Tapi, cukup sering juga gw berfikir sebaliknya. Kenapa gw ga bisa istiqomah berada di jalan ini seperti mereka-mereka. Kenapa gw ga bisa totalitas berjuang seperti mereka. Ah, semoga gw bisa seperti mereka.
Kedua, gw sadar kalo apa yang gw lakukan selama ini masih karena manusia. Dan ini sangat susah mengubahnya. Jadi gw uda kaya bunglon, berubah warna tergantung tempat. Gw bisa menjadi orang yang sok alim, bisa juga jadi orang yang sok bejat. Kalo ga ada temen-temen gw yang ngeliyat, gw bisa berubah (ceritanya gw titisan ranger biru). Ya itu, kalo ga ada temen-temen yang ngeliyat, padahal Allah selalu melihat, tak pernah tidur. Dan terkadang gw masih sangat lemah dengan diri gw sendiri, misal boncengan lawan jenis. Gw bisa sangat keras menolak, tapi terkadang gw juga sangat lemah untuk bilang "engga bisa", tergantung berada dimana. Hal lain lagi, gw juga bisa sangat alim ketika di dalam sebuah forum-forum kajian,  namun ketika keluar dari forum, gw seperti ga pernah berada dalam forum tersebut.
Ketiga, gw sadar mimpi-mimpi gw ketinggian. Ya, mimpi-mimpi gw kayak dilantik jadi presiden pas ulang tahun ke 57, terus jadi menteri esdm ristek, terus jadi anggota dpr, atau mungkin jadi walikota, dirut pertamina, de el el. Ketinggiann bung kayaknya. Kok ketinggian kih? ya kalo ngeliyat kondisi gw sekarang, mimpi-mimpi itu sangat tinggi. Gw sekarang masih kebanyakan maen, kebanyakan malesnya, baca buku kurang, pengetahuan jelas kalah banyak dari temen-temen gw yang hebat-hebat itu. Jadi ya itu mimpi yang sangat tinggi. Dan sudah saatnya merajut mimpi-mimpi baru, yang lebih realistis. Ah, tapi bukan berarti yang ketinggian itu dicoret dari mimpi-mimpi.
Keempat, skill menulis gw jauh menurun meen. Beh, tulisan-tulisan gw udah ga kayak dulu-dulu lagi. Semakin cupu gw. Jadi kalo setiap baca blog temen-temen gw, gw selalu minder men. Bagus-bagus karya mereka. Lah punya gw? liyat aja ini, cupu abis. Punya temen-temen penuh dengan makna tulisannya, lah gw? katrok banget.
Kelima, obatnya nikah. Kok tiba-tiba obatnya? sakit apaan emang kih? haha. Ya gitu lah, intinya nikah adalah obat yang ampuh untuk ngatasin itu semua. haha. Wiih, kapan kih? hmm, bokap gw nikah sekitar umur 23. Berarti gw juga pengennya sih sekitar umur 23an, sekarang umur 20, jadi sekitar 2-4 tahun lagi. Masih cukup waktu untuk menyiapkan segalanya. Tapi sih semoga ade gw duluan nikah 1-3 tahun lagi. Hahaa. Ayo kih, disiapkan, dipantaskan, disegerakan. :)
Dan terakhir, gw punya idola baru. Siapa kih? dia adalah Ahmad Faqih Mahalli semasa SD. Loh kok? iya, dia orang yang masih putih, dia juga cukup berprestasi. Sayangnya seiring pertumbuhan, ni orang makin cupu. Haha, Makin tua makin kurang berprestasi.
Ah, cukup sekian dulu sepertinya cerita 2012nya. Dan selamat tahun baru 1434H. Semoga cerita-cerita masa lalu dapat menginspirasi untuk semakin maju kedepannya. Refleksi, dan perbaiki. Bismillah. Semoga kita termasuk orang-orang yang pandai mengambil hikmah, dan pandai bersyukur. :3

Senin, 10 Desember 2012

Cerita 2012 (2): Pulang, Abdi, Kawan

Yak, sampe juga di cerita yang kedua di 2012 (1433H). Yang mau baca cerita pertama bisa kesini. :)


Seperti yang udah di ceritakan di cerita pertama, taun 2012 ini taun dimana gw sangat sering di kos. Ngapain? ga jelas. Kalian juga gamau tau kayaknya. hahah.. Jadi ceritanya setelah gw kalah itu, dan gw ga ngapa-ngapain, gw cukup kebosanan di kosan. Emang sih ada laptop, tapi bosen juga. Emang siih, ada temen kos, tapi mereka sibuk, jadi tetepa aja ujungnya gw cengo sendirian di kamar gw.
Dan akhirnya gw memutuskan untuk ikut KKN taun 2012 ini, setelah di izinkan oleh orang tua. Kemana? yak ketempat kelahiran gw, Aceh. Hmm, kayaknya gw udah pernah nyeritain ini ya disini. Tapi cerita tentang mereka tu gak akan habis ternyata. Setidaknya untuk tahun ini. Mereka yang sudah mengajak gw untuk mengunjungi pulau terluar di Indonesia. Ya, mereka.
Di awal gw gabung dengan kelompok ini, gw gabisa "nyambung" sama mereka. Gwnya looh, bukannya mereka. Mereka sih sangat open sama gw, hanya saja waktu itu gw masih gimanaaa gitu. Gw benebener berada di dunia baru (agak lebay siih). Intinya gw dapet temen-temen yang benebener beda dengan temen-temen gw di teknik (biasa aja sih kayaknya, gw nya aja yang lebay. maap yak :3). Dan waktu itu gw putuskan untuk kembali menjadi gw yang pendiam (._.). Ya, gw bakal pencitraan ke mereka kalo gw orang yang pendiam, ga banyak omong, ga suka bercanda, lucu, dan imut. Di awal-awal ngumpul sih gw tahan ga banyak omong, ngomong seperlunya dan solutif. Ya wajar tahan, orang gw masih ga ngerti apa-apa waktu itu. Haha. Dan sampe akhirnya gw gabetah jadi pendiem, gw ikutan dah becanda ama mereka. Uda nyambung soalnya becandaannya.
Sampailah pada akhirnya gw di Aceh, tempat kelahiran gw. Entah kenapa gw sangat bangga pernah tinggal di Aceh. Yah pokoknya seneng lah bisa kesana lagi, meskipun kota Banda Acehnya sudah sangat berbeda dengan ketika gw tinggal disana dulu. Apalagi daerah tempat dulu gw tinggal, beda banget pasca Tsunami. Sebentar di Aceh, abistu langsung ke Sabang. Apa yang gw lakukan di sabang? maenmaen. Hahaha.
Program KKN kami adalah mentutor, lomba ramadhan, peyuluhan, de el el (ceritanya udah lupa). Disana gw ngajar matematik. Beh, pelajaran yang di takuti sama anak-anak disana. Alhasil, gw cuma dapet sedikit anak-anak yang mau di ajarin (ini gara2 matematiknya apa gara2 elunya kih? :p). Soal program, itu aja deh yang diceritain. Kalo pada mau baca, minta aja LPK KKN 182 di LPPM. Haha.
Hmm, kayaknya gw mau nyeritain temen-temen gw. Mulai dari pojok kiri atas, Salis. Doi anak mesin, supir gw ini. Biasanya kalo ada rapat-rapat atau ngumpul-ngumpul, pasti gw minta jemput ama die. Haha. Gw ngefans men sama murattalnya dia. Ini orang paling galau di sub unit gw. Haha, brengcun lah pokoknya. Abistu sebelah kanannya Salis, Muti. Ini kormanit kite, anak antropologi. Galak bener dah. Kita sama-sama bagian ngurusin lomba ramadhan, cuma beda sub unit aja, dia di Iboih, gw di Paya Seunara. Lanjut ke sebelah kanannya lagi, ada Tecan. Anak tekfis ini, temen sejurusan gw. Awalnya kami udah janjian bakal KKN di Aceh taun 2013 nanti, tapitapi jadinya malah ikut taun ini. Ini bocah Subhanallah men, ditabrak truk, tapi Alhamdulillah kaga ngapa-ngapa, cuma keseleo aja kayaknya. Padahal motornya ancur. Ini bocah juga yang pernah bikin gempar pondokan, ngapain emang die? cuma ngingetin supaya  sepatu harap dilepas sebelum masuk ke pondokan. Terus? *sensor* *tidak baik diceritakan* haha. Lanjut lagi ke sebelah kanannya, si uni Tiara anak psokologi. Bendahara kami, yang sampe sekarang masih megang duit kita-kita (uniiii,  minta duiiit). Kayaknya sih ya, cuma si uni ini doang nih yang kaga gw cengin disana. Haha, kaga berani gw. Uni ini cukup dewasa orangnya, dibandingin gw yang emang masih kayak anak esempe ini. Kelebihannya si uni ini adalah bisa masak cumi goreng tepung dengan bahan baku bawang!! wiih, hebat kan? haha. Yang terakhir di shaf pertama adalah si aul aka imron aka samsul si anak ha i. Ini bocah paling ganteng versi anak-anak kelas 6 SD 19 Sabang. haha. Hal yang paling gw inget dari ni bocah adalah ka ca ma ta. Kok? gw matahin kacamatanya die. Padahal gw anteng banget lagi bikin desain buat lomba ramadhan, eeeh tibatiba. haha. Die juga tukang masak men, sama kaya uni, die juga bisa bikin cumi goreng tepung dengan bahan baku bawang.
Masuk ke shaf ke dua, dari kiri ada bang adib. Ini abang gw anak komunikasi. Lulusan gontor cui, hampir aja dulu gw jadi ade kelasnya disana. haha. Si abang ini kerjanye jalan-jalan mulu, alibinye sih buat ngambil gambar. Lanjut lagi, disebelahnya bang adib ada ka nad. Anak hukum cuii. Ini ni tokoh favorit anak-anak ni kayaknya, haha. Doi anak komplek looh. Lanjut, disebelahnya ada adit anak psokologi. Ini orang paling tega sama gw kalo waktunya tidur. Jadi ceritanya kite tidurnya sebelahan gitu, dan ga jarang pas bangun gw uda nyempil di keteknya die. Ini bocah gw panggil tweety, entah kenapa mukanya die uda kaya tweety dengan mata belok nya yang kalo tidur aja kaga ketutup semua. Haha. Disebelahnya adit, ada hildat anak biologi. Dia ituu, hmm, gimana ya, hmmm. Pokoknya ini orang demen banget cubit-cubit gw. Pernah dicubit ampe biru beberapa hari. Paling berisik juga dan katrok. Terakhir ada si dedek afgan yang lucu imut dan nyolotnya minta ampun. Segala orang di cengin ama die.
Shaf terakhir nih, paling kiri ada ikwan anak elins. Ini doi betemen ama leptop doang kayaknya haha. Ini orang juga yang pernah gw curhatin tentang masa-masa "kekeringan" gw selama di sabang sana. Lanjut, disebelahnya ada nci-nci jalan perdagangan, arum. Anak arsi die. Ini orang pertama yang gw kenal di tim KKN ini. Sekelompok pas PPSMB Fakultas dulu soalnya. Si nci ini orangnya kreatip looh, jago masak juga kayaknya. Disebelahnya enci, ada ardi, anak sasind. Die ni anak selam cui, ude cukup ekspert lah. Abistu disebelahnya lagi ada si asep, anak biologi. Ini die bae orangnya. Sering jadi tumbal kita-kita buat menghadapi seseorang. haha. Terakir ada rudi, anak manajemen. Ini orang udah kaya kotak barang ilang, kalo kehilangan sesuatu, tanya doi. Haha. Die juga yang paling mandiri dah anaknya.
Oke sudah semua. Apa? ada yang belom? siapa? dpl? hahaha. Yang ini ga usah lah ya. Daripada terjadi hal-hal yang tidak inginkan. wkwk. Yah Alhamdulillah gw bisa akrab dengan mereka. Oiya, mereka juga nih yang malem-malem tanggal 20 okt dateng ke kos gw, ngasih kue dan petasan. Haha, Makasih dah yaa. Maen lagi yook :D.
Hmm, kayaknya sih masih banyak yang bisa diceritain, tapi kalo diceritain disini ga muat. :P
Oiya, ceritanya gw soksokan bikin buku kenangan gitu buat unit 182. Abal tapi desainnya. haha. Kalo yang mau liyat bisa kesini nih.
Yak, selesai cerita kedua, masih ada lanjutannya looh. :3

Lanjutannya udah ada nih. Disini.

Cerita 2012 (1): kalah, pasif, pilihan


Desember, bulan-bulan sibuk di UGM. Masa akhir semester, persiapan menuju UAS, juga penyelesaian tugas-tugas akhir semester. Belum lagi soal pemira. Ya, ajang pembelajaran berdemokrasi bagi mahasiswa (setidaknya menurut gw seperti itu). Cukup intronya, soalnya tulisan gw kayaknya engga ngebahas itu deh. haha. Tapi mungkin aja nyambung. ._.
Apa yang mau gw ceritakan kali ini adalah tentang kisah gw selama 2012 (1433H) ini. Penting? ga juga siih. Cuma mau cerita aja. haha. Bukannya mau ikut-ikutan beberapa notes di FB yang ber-part-part, tapi emang mau dipisah-pisah ceritanya. Selamat menikmati. :3

Tepat setahun yang lalu, Desember 2011, gw ikut pemilihan Ketua BEM KMFT (Keluarga Mahasiswa Fakultas Teknik). Kok ceritanya mulai dari sini? karena dari sini 2012 gw dimulai. haha. Banyak yang nanya dulu, kenapa gw "ikut-ikutan" nyalon segala? apa cuma buat maen-maen? apa ini sandiwara? konspirasi apa dibalik semua ini? (lebay? engga juga). Ya wajar aja sih mereka pada berfikiran kaya gitu, soalnya lawan gw tuh temen gw sendiri. Temen deket malah. Dan gw juga daftarnya akhir-akhir. Sampe ada yang ngetawain gw gitu deh. hahahaa.... Gw ketawain balik.
Sebenernya gw sih ga peduli sama pemikiran mereka, mau dibilang sandiwara, mau dibilang maen-maen, apalah itu, gw ga gitu peduli. Yang pasti gw maju karena gw emang pengen maju. Ya, karena gw emang masih ingin berkontribusi atas nama BEM KMFT. Begitu mungkin alasannya ketika itu. Tapi kayaknya dulu tiap ditanya gw ga pernah jawab kaya gitu deh. haha.
Dan hasil pemilunya? jelas kalah. 1400an lawan 400an. Jauh men. haha. Ada beberapa hal menarik yang masih gw inget dari pemilu taun lalu. Pertama, pertanyaan debat dari salah seorang penonton ketika itu. Jadi pertanyaannya kenapa yang nyalon cuma dua orang, dan yang satu keliatan kaya ogah-ogahan, daftarnya aja akhir-akhir. Begitu dia nanya, nah bingung nih kalo ada yang nanya kaya gitu. Kenapa musti ditanya ke kami berdua yang nyalon? haha. Itu satu. Satu lagi, pas perhitungan suara, ada satu surat suara yang ga dicoblos, tapi di coret-coret. Tulisannya "ga ada yang kompeten". Nah loh? makin bingung gw. Emang yang kaya gimana? yang ga berani nyalon gitu? hahaa.. ketawa lagi. Yah, setelah kalah dari temen gw itu, pada akhirnya gw sama dia masih tetap berteman seperti biasa, ga ada selek-selekan.
Dan mulai dari sini lah 2012 gw dimulai. Jadi dari sebelum pemilu gw udah nyiapin beberapa plan untuk 2012 ini, dan plan yang berhasil adalah plan terakhir. Apa itu? jadi mahasiswa kupu-kupu. Iya, pada akhirnya gw memilih untuk cukup kuliah dan berdiam diri di kos. Wiih, belajar kih di kos? kaga. Ngenet. hahaaa.. Sebenernya ada sih tawaran untuk aktif di beberapa tempat, tapi bukan sesuatu yang gw mau, jadi ga gw ambil tawaran itu. Hehe. (ceritanya soksokan)
Banyak yang menyayangkan tentang pilihan gw untuk jadi anak "kosan". Ga banyak juga sih sebenernya. ._. haha. Cuma ya kalo ketemu beberapa senior, terus pasti ditanya, "sibuk apa sekarang?", dan gw jawab, "ga ngapa-ngapain mas, kuliah aja", terus mereka bilang "sayang banget, masih potensial padahal buat bantu-bantu temen-temen", kira-kira begitu. Sebenernya orang tua gw juga menyayangkan kenapa gw ga aktif dimana-mana lagi. Tapi ya mau gimana lagi, gw sudah memilih. Haha.
Tapi ternyata, gw bosen juga. Agak ga betah juga dikosan mulu. Cengo aja hampir tiap hari. Apalagi sabtu-ahad. Beh, tidur aja kerjaannya. Kaga seru. Tapi ya Alhamdulillahnya ada laptop gw yang setia menemani, setidaknya gw jadi ada "teman". Juga temen-temen kos gw yang tiap malem gw gangguin. Haha. Tapi ya tetep aja, ada yang kurang. hehe.
Mereka bilang "Bergerak atau mati". Begitu, gw percaya itu. Memang ketika itu gw sedang tidak bergerak, tapi belum mati. Koma mungkin. Tapi pada akhirnya ada juga hal-hal yang bisa gw kerjain. Apa itu? nanti ya, di tulisan berikutnya. Haha.
Sekian dulu deh cerita part yang ini. Maap dan terima kasih. :3

Lanjutannya udah di post looh. Disiniii..