Halaman

Rabu, 07 Maret 2012

Membenarkan Yang Biasa

Bismillah,
Baru beberapa minggu kemarin ada lagi salah satu pegawai pajak yang bermasalah, tentu juga mengingatkan kita betapa bejatnya Gayus mengambil banyak keuntungan dengan pekerjaannya sebagai pegawai pajak. Dan agak risih juga kalau denger kalau "suap-menyuap" di lingkungan itu adalah hal yang biasa. Ah, ga cuma di lingkungan pajak saja, di setiap lingkungan instansi pemerintah yang berkaitan dengan administrsi sepertinya juga sudah menjadi hal yang biasa. Hal-hal yang biasa yang kemudian seolah menjadi benar untuk dilakukan. Tak ada rasa malu lagi, apalagi merasa bersalah.
Pernah baca sebuah artikel tentang pengakuan dari salah satu cawagub yang sedang bertarung dalam pilkada, beliau bilang kalau politik uang itu hal yang biasa. Lagi, suatu hal yang sudah biasa kemudian seolah menjadi benar. Dan mungkin masih banyak lagi perkara-perkara yang menjurus ke korupsi, kecurangan, dan hal-hal sejenis yang karena sudah terlalu sering dilakukan hingga akhirnya perkara tersebut dianggap sudah biasa dan seolah menjadi benar di lingkungan pemerintahan di atas sana.
Kesal? Benci? ya, mungkin kita sebagai rakyat biasa apalagi mahasiswa mungkin merasa kesal dan benci dengan mereka yang seolah tak ada rasa bersalah lagi melakukan hal-hal menjijikan seperti itu. Caci maki pun banyak keluar dari mulut-mulut kita melihat kelakuan mereka yang terus memperkaya diri dengan segala kecurangan yang dianggap biasa bagi mereka. Banyak juga mungkin dari kita yang tak ingin terjun ke pemerintahan dengan kebusukan seperti itu, dan banyak juga yang ingin masuk kedalam pemerintahan dan ingin menyapu bersih hal-hal kotor seperti itu.
Dan saya yakin masih banyak mahasiswa di negri ini yang benci dengan kelakuan-kelakuan kotor seperti itu. Tapi yakin ketika kita sudah masuk kedalam sistem, kita tidak terbawa arus kotor seperti itu? yakin kita bisa merubah hal-hal biasa itu? sekali lagi, penyakitnya adalah hal-hal tersebut adalah hal-hal yang sudah biasa terjadi. Bukan tidak mungkin kita pun bisa masuk kedalam pusaran setan itu.
Nah sekarang coba kita berkaca, masihkah kita mencontek saat ujian? masihkah kita titip absen ketika malas masuk kelas? Itu adalah contoh hal-hal yang biasa di kalanga mahasiswa, tapi apakah seketika hal tersebut menjadi benar? Ketika kita masih membenarkan hal-hal yang sudah biasa, jangan harap kita bisa mengubah Indonesia menjadi lebih bersih.
Yuk mari kita mulai untuk membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa. Harapan itu masih ada kawan.

sekian tulisan ngawur saya, semoga bermanfaat. maaf kalo tulisannya jelek, maklum orang awam :3
A. F. Mahalli

Tidak ada komentar:

Posting Komentar