Laman

Minggu, 06 Januari 2013

Islam dan Zaman Modern

Oke, kali ini gw kembali dengan tulisan sotoy gw. Sebuah pemikiran yang sangat sotoy. Haha. Jadi ini tuh dulu gw bikin buat bantuin PR Agamanya temen gw. Daripada sayang tulisannya, mending tak post disini aja dah. :3


Sejauh mana peran iman dan taqwa dalam kehidupan modern. Pertama kita harus definisikan dulu apa itu iman dan apa itu taqwa. Kita ambil definisi yang paling sederhana. Iman adalah percaya. Mengacu pada rukun iman yang 6, maka dapat didefinisikan (secara sederhana) lagi seperti berikut:
1. Iman kepada Allah, artinya percaya bahwa Allah itu ada. Sederhananya seperti itu. Percaya bahwa Allah lah Sang Maha Segalanya. Percaya bahwa ada Allah yang selalu melihat apa yang kita perbuat. Percaya bahwa ada Allah yang mendengarkan doa-doa kita.
2. Iman kepada Malaikat. Sederhananya, percaya bahwa ada makhluk ciptaan Allah bernama malaikat. Yang selalu bertasbih dan taat kepada Allah. Yang salah diantaranya bertugas untuk mencatat segala perbuatan kita, mengadili kita, bahkan mencabut nyawa kita.
3. Iman kepada Kitab Allah. Percaya bahwa ada wahyu-wahyu Allah yang terangkum dalam kitab-kitabNya. Mulai dari Taurat, Zabur, Injil, dan terakhir AlQuran sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Percaya bahwa di dalam kitab tersebut terdapat wahyu Allah tentang tata cara hidup, pedoman hidup.
4. Iman kepada Nabi dan Rasul Allah. Percaya bahwa ada manusia-manusia yang dipilih oleh Allah untuk menyampaikan berita gembira. Percaya bahwa Rasulullah di utus untuk menyempurnakan akhlaq manusia.
5. Iman kepada Hari Akhir. Percaya bahwa hari akhir itu pasti datangnya. Percaya bahwa hidup tak hanya di dunia, tapi ada kehidupan lain setelah di dunia.
6. Iman kepada Qada dan Qadar. Percaya bahwa takdir Allah itu ada, sudah tertulis di lauhul mahfudz.
Sederhananya seperti diatas. Kemudian Taqwa, kembali di definisikan secara sederhana, bahwa Taqwa adalah mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah.
Kemudian apa peran itu semua di kehidupan modern? Jika yang dimaksud dengan zaman modern itu adalah saat ini, maka jika melihat realita yang ada bisa dibilang kehidupan sekarang jauh dari iman dan taqwa. Di Indonesia Korupsi dimana-mana, kemiskinan semakin menjadi, ketidak adilan proses hukum, degradasi moral dan sebagainya. Manusia masih hidup untuk memenuhi kebutuhan duniawi. Uang menjadi tuhan. Rela melanggar perintah Allah demi uang. Dan pada akhirnya? dunia tak lebih dari sekedar ajang untuk memuaskan hasrat pribadi.
Kita ambil contoh salah satu produk zaman modern, bunga pinjaman atau riba. Jelas-jelas di AlQuran tertera bahwa jauhi riba. Jika memang kita benar-benar beriman dan bertaqwa, maka tentu kita akan menjauhi riba. Namun realitanya? masih banyak orang yang melakukan riba. Tentu saja riba ini semakin memiskinkan mereka yang miskin.
Tak usah lah ambil contoh yang jauh, yang paling dekat, Mahasiswa. Sudah sepatutnya mahasiswa jujur dan tidak berbuat curang ketika ujian. Namun realitanya? tak sedikit yang melakukan kecurangan. Alhasil nilai yang ia dapat pun hasil berbuat curang dan tidak berkah, lulus dengan nilai yang tidak berkah, mendapatkan kerja dengan nilai tidak berkah, dan pada akhirnya memberi nafkah dari nilai yang tidak berkah juga. Selesai disitu? tidak. Karena sudah biasa melakukan kecurangan-kecurangan yang dianggap kecil dan hal yang umum di lingkungannya, maka bukan tak mungkin dia akan terus berbuat tidak jujur dan kecurangan-kecurangan lainnya.
Tentu lain halnya jika iman dan taqwa benar-benar ada, mahasiswa tersebut akan senantiasa berbuat jujur. Dan hingga akhir hayat pun, jika iman dan taqwa terus melekat di dalam dirinya, maka dia pun akan terus berbuat jujur. Bayangkan jika seluruh masyarakat berlaku jujur, maka tak akan ada lagi korupsi, tak akan ada lagi penipuan, dan sangat mungkin tercipta masyarakat yang adil dan sejahtera.
Berbekal iman dan taqwa, maka manusia akan patuh. Kenapa? Karena dia percaya bahwa Allah melihat segala perbuatannya, percaya bahwa ada malikat yang senantiasa mencatat amal-amalnya, percaya bahwa pada akhirnya ada hari dimana dunia ini berakhir. Dengan begitu, manusia akan berhati-hati dalam bertindak dan cenderung menjauhi hal-hal yang tidak di Ridhoi oleh Allah, termasuk kecurangan tadi. Disitulah letak peranan iman dan taqwa. Sebagai pondasi dalam membangun zaman, membangun peradaban. Dengan kembali pada unsur-unsur rukun iman dan ketaqwaan, maka sangat mungkin tercipta suatu peradaban yang madani. Wallahu A'lam.
Kemudian pertanyaan selanjutnya, apakah islam bertentangan dengan zaman modern? kembali jika definisi dari zaman modern itu adalah saat ini, maka dari realita yang terjadi bisa saya katakan bahwa zaman modern bertentangan dengan islam. Saya balik pernyataan di atas tadi, bukan Islam yang bertentangan dengan zaman modern, tetapi zaman modern lah yang bertentangan dengan Islam.
Kita lihat realita di lapangan, dunia di pimpin oleh dua kutub faham. Liberalis dan Sosialis. Faham yang ujungnya kembali pada materialisme. Hasilnya? dengan faham liberalismenya, sistem kapitalis berkembang yang mengakibatkan kesenjangan dalam struktur sosial. Dimana kaum borjuis berkuasa di atas ketertindasan para proletar. Sementara faham sosialis, atas dasar kesetaraan maka pemerintah dapat memeras milik rakyat untuk negara.
Kemudian dimana letak Islam? Islam berada di antara keduanya. Hal-hal yang baik dari dua faham tersebut ada di dalam islam, namun yang buruk-buruknya tak ada. Islam mengajarkan kita untuk fastabiqul khairat, berlomba-lomba untuk kebaikan. Islampun tetap mengajarkan kita untuk terus berlomba mencari rizqi (seperti kaum kapitalis), tentu dengan cara-cara yang halal dan di ridhoi Allah. Tetapi tak lupa, dari rizqi yang didapat terdapat hak-hak mereka para kaum proletar atau lebih luas disebut mustahik (seperti kaum sosialis). Sederhananya seperti itu.
Bicara moral, zaman modern seperti sekarang degradasi moral kian terjadi. Kejujuran menjadi hal yang langka. Apa yang terjadi? kacau. Kembali, korupsi dimana-mana. Kecurangan menjadi hal yang lumrah. Tak ada rasa takut akan adzab Allah. Tak ada penyesalan yang tampak dari para pejabat-pejabat yang korupsi, bahkan bisa sebegitu santainya.
Disinilah tantangannya, di zaman globalisasi yang semakin bebas ini, perlunya nilai-nilai Islam masuk. Tak hanya kedalam diri pribadi, namun juga sampai kepada tatanan negara bahkan dunia. Tak perlulah kita langsung bermuluk-muluk untuk membentuk tatanan dunia baru dibawah syari'at Islam, cukup dengan menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Jujur, adil, peduli, disiplin, dan lain sebagainya.
Nah, mari kita bawa zaman modern ini penuh dengan nilai-nilai Islam. Agar kelak tercipta tatanan dunia baru, dunia yang madani. Muluk memang, tapi tak ada salahnya bercita. Wallahu A'lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar