Halaman

Selasa, 17 Juni 2014

Upin & Ipin: Lucu dan Penuh Nilai

Upin Ipin, salah satu film animasi, menjadi hiburan tersediri (setidaknya buat gw) ditengah riuhnya acara-acara televisi yang aneh-aneh. Yap, aneh. Mulai dari acara komedi saling caci plus joget-joget yang apasih, hingga sinetron-sinetron yang entah apa maksudnya. Belum lagi acara-acara berita yang (buat gw) cukup membosankan, di isi dengan pencitraan tokoh-tokoh atau penghancuran tokoh yang lain.
Di antara acara-acara yang makin aneh tadi, masih ada acara-acara yang menghibur dan mendidik. Acara-acara yang tak hanya menghibur, namun juga menumbuhkan optimisme dalam diri. Acara-acara talk show inspiratif, jelajah negeri, dan beberapa film animasi. Yap, film animasi, mau cerita tentang film animasi favorit gw, upin ipin.
Cerita upin ipin itu sederhana bro, cuma kisah tentang sekelompok anak kecil yang seneng main. Udah, gitu doang, main doang. Salah satu yang membuat gw tertarik dengan upin ipin karena latarnya, melayu. Yap, upin ipin ini emang film animasi punya negri jiran, settingannya pun disana. Entah kenapa seneng aja sama settingannya, cerita tentang anak-anak kecil di desa, yang seneng main. Cerita tentang anak kecil dengan settingan daerah melayu itualah yang bikin gw teringat dengan masa-masa gw kecil dulu ketika di Meulaboh dan di Banda Aceh.
Selain karena mengingatkan masa kecil, ada faktor lain yang juga menjadi alasan gw seneng sama film upin ipin, yaitu penanaman pesan. Cara si pembuat cerita menanamkan pesan kepada penonton lah yang gw suka. Tidak ada peran antagonis di film upin ipin ini, tidak ada sosok jahat yang penuh dengan iri dan dengki. Pesan-pesan moral yang disampaikan pun sederhana dan pas untuk anak-anak. Beda dengan anime seperti naruto, one piece, dll. Cara penyampaian moralnya terlalu rumit bagi anak-anak.
Sebenarnya Indonesia pun punya karya animasi sendiri yang bisa dibilang lumayan lah. Hanya saja dari segi cerita dan penanaman pesan, menurut gw masih kurang baik dari upin ipin. Oke, ambil contoh, ada salah satu film animasi judulnya Keluarga Pak Somat (kalo ga salah namanya gitu). Karakter dari salah satu tokoh utama di film ini, si Dudung, ialah seorang anak yang cenderung bandel. Film ini memang menceritakan tentang kehidupan sehari-hari juga, namun yang membedakan ini dengan Upin-Ipin jelas dari segi nilai. Entah, tapi pernah nonton itu film, nilai yang ingin disampaikan sepertinya ga ada, cuma hiburan aja.
Kemudian ada lagi film Adit & Sopo Jarwo. Ini cerita tetang seorang anak yang digangguin mulu sama pengangguran, trus di akhir muncul Dedy Mizwar ngasi nasehat. Oke, ini ada penanaman nilai. Hanya saja dari segi pengemasan film, si tokoh yang kurang baik itu bisa dibilang ga pernah tobat lah. Meski udah apes dan udah dinasehatin sama Dedy Mizwar. Pun sama dengan film animasi Si Entong. Ceritanya tentang sosok seorang anak baik yang selalu di usili oleh temannya. Temannya ini selalu iri dan dengki dengan si Entong. Persis seperti film sebelumnya, si sosok bandel ini akan selalu gagal ngusilin si Entong, bahkan sampe kena sial dan kena omel. Namun, tetap saja tiap hari ngusilin dan ga pernah tobat. 
Karena bentuk pengemasan yang seperti itu, maka menurut gw film Upin Ipin masih jauh lebih baik dalam segi penanaman nilai. Bukan ga ada film anak Indonesia yang bagus, ada, contohnya Si Bolang, Laptop Si Unyil, dan yang semacacmnya. Memang ini bukan film animasi, ini film dokumenter, namun dari segi penanaman nilai, film-film ini bagus.
Penanaman nilai sejak kecil itu bisa jadi pondasi ketika sudah besar nanti. Memang, tidak ada yang memastikan ketika kecilnya baik besarna pasti baik, maupun kecilnya kurang baik besarnya jadi buruk. Namun, ada baiknya penanaman nilai itu dilakukan sejak kecil. Dan film, merupakan salah satu metode untuk menanamkan nilai. Maka, semoga kelak semakin banyak seniman-seniman Indonesia yang tak hanya punya skill yang bagus, namun juga punya idealisme untuk perkembangan anak Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar