Halaman

Minggu, 29 Maret 2015

Pinnochio: Drama Realita Media (?)

Sumber: asianwiki
Pinnochio, sebuah judul drama korea yang berkisah tentang reporter dan dapur sebuah media. Tulisan saya disini saya batasi, tidak akan membahas kisah cinta ataupun kisah keluarga yang ada, juga ga akan menceritakan bagaimana si Park Shin Hye lucu, bawel dan cantiknya beeeeeuh (ahahaha :v), juga ga akan membahas soal kebetulan yang jahat yang baiknya ternyata orang-orang dekat, dan semacamnya. Jadi ya, saya hanya ingin membahas kisah "pers"-nya saja.
Tema utama tentang media ini lah sebenernya yang membuat saya tertarik untuk menonton drama ini (iyee, karena Park Shin Hye juga :v). Awal kisah dimulai dari berita tentang kebakaran pabrik yang menewaskan beberapa orang pemadam kebakaran didalamnya. Kemudian media memberitakan bahwa kepala pemadam kebakaran saat itu lah yang harus bertanggung jawab atas meninggalnya para pemadam saat itu. Framing yang dilakukan media saat itu hanya fokus pada si kepala pemadam itu, tanpa mencari fakta sebenarnya kenapa terjadi kebakaran. Akhirnya keluarga si kepala pemadam itu hancur, si kepala pemadam itu meninggal karena kebakaran itu, sang istri bunuh diri, anak pertamanya ketika dewasa menjadi pembunuh, dan anak keduanya menjadi reporter untuk membalas dendam terhadap reporter yang dulu membuat keluarganya hancur. Begitu kira-kira kisah singkatnya, banyak detail-detail yang tidak saya ceritakan, silahkan ditonton sendiri.
Dari drama ini, diceritakan bagaimana sebuah berita di media, dengan framing dan isu yang diciptakannya bisa saja membuat orang yang tak bersalah menjadi terkena hukuman sosial, apapun itu. Memang, meski yang diberitakan bukanlah sebuah kebohongan, tetapi tetap saja menutupi fakta-fakta lain yang lebih besar. Sehingga fokus penonton tidak pada fakta besar dibelakangnya, semua terfokus pada fakta kecil yang dimunculkan. Terus menerus fokus pada hal kecil tersebut, hingga akhirnya nanti muncul sebuah isu lain yang akan menutup isu sebelumnya bersama fakta-fakta besar yang belum (dan mungkin tak kan pernah) terungkap.
Drama ini juga mengisahkan bagaimana seorang reporter harus bisa meredam segala egonya pribadinya, meredam segala inginnya, dan benar-benar menjadi seorang reporter yang berintegritas. Tidak terpengaruh masalah keluarga, kisah masa lalu, bahkan keinginan sang empunya media sekalipun. Seorang reporter harus tetap menggali segala fakta lapangan yang tersedia. Pun juga dengan si media tersebut, harus tetap memberitakan fakta-fakta yang ditemui tanpa harus tunduk pada perintah sang empunya.
Pada akhirnya, drama adalah drama. Hanya sebuah cerita karangan yang cenderung fiktif, meski kurang lebih sama dengan kenyataannya. Menemukan media dan reporter yang benar-bener berintegritas mungkin agak sulit. Semua bergulat dengan kepetingan masing-masing. Mungkin soal kuasa atau harta. Pun bukan berarti mereka menyebarkan kebohongan. Mungkin mereka benar, dengan menyampaikan fakta kecil, namun mereka abai dengan fakta lebih besar. Mungkin mereka benar menyampaikan fakta kecil, namun mereka menggeneralisir seolah semua sama.
Dengan mempelajari gerak-gerik media, framing dan isu yang dibuatnya, juga orang-orang beserta kepentingan dibelakangnya, kita dapat menilai sendiri media tersebut. Berkaca dari media-media besar di Indonesia, kita sudah dapat membaca kearah mana berita akan dibuat di tiap media. Framing apa yang diciptakan dari tiap-tiap isu, dan kepentingan apa yang dibawa dibelakangnya agaknya cukup jelas. Pada akhirnya adalah bagaimana caranya masyarakat mendapatkan hak menerima informasi yang terpercaya. Juga bagaimana frekuesi publik tidak dikuasai untuk kepentingan segolongan saja.
Masyarakat, sebagai penikmat, tentu tetap memiliki hak untuk mendapatkan informasi yang utuh dan sehat. Negara sudah menjamin hal tersebut, dengan adanya UU Pers, UU KIP, dan sebagainya. Namun memang, kenyataanya media tetap akan memilah fakta dan membuat framing sendiri untuk menggiring opini publik. Disinilah sebenarnya peran semua pihak, baik negara, media, maupun masyarakat dibutuhkan, untuk menjaga "konsumsi" informasi masyarakat agar tetap sehat.
Menjadi bagian dari media pernah menjadi impian saya dahulu sejak masih SMP (atau SD mungkin). Namun semakin saya pelajari, semakin tak mungkin saya bergabung dengan media. Sulit rasanya (bagi saya) untuk benar-benar dapat menjadi pegiat media yang berintegritas. Ah, cukuplah sekarang menjadi penikmat saja. Sesekali berdiskusi dengan kawan, untuk menjernihkan fokus. Masih teringat slogan yang saya katakan kepada adik-adik di Media BEM KMFT dulu, "Jika ada jarum jatuh di KPFT, pastikan seluruh masyarakat teknik tau, ingin tau kebenarannya, dan percaya dengan yang informasi kalian". Itu saya adopsi dari kakak angkatan di Media BEM dengan sedikit perubahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar