Halaman

Minggu, 19 Mei 2013

Belajar dari Sejarah?

Jadi ceritanya gw baru selesai baca buku Api Sejarah yang pertama, bukunya Ahmad Mansur Suryanegara. Dan kebetulan bertepatan juga dengan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, jadilah gw mau soksokan bikin tulisan. Hhe.

Dulu waktu di SMA, guru sejarah gw mengenalkan sebuah frase yang diungkapkan oleh Cicero, Historia Vitae Magistra. Artinya adalah Hidup Guru Sejarah!! eh salah, artinya adalah Sejarah Guru Hidup. Nah, Kita percaya bahwa dari sejarah kita dapat belajar, dari kejadian-kejadian masa lalu kita dapat mengambil ibrahnya yang kemudian menjadi pertimbangan kita untuk menjalani masa depan.
Penulisan sejarah sendiri bergantung dari siapa yang berkuasa. Ketika Indonesia masih diduduki oleh Kolonial Belanda, maka jelas, penulisan sejarah Indonesia saat itu bergantung pemerintah Kolonial Belanda. Jelas, penulisan sejarah yang sangat diutamakan adalah dengan membentuk opini yang baik terhadap mereka pribumi yang kooperatif dengan pemerintahan Kolonial Belanda.
Begitupun dengan penentuan Hari Kebangkitan Nasional Indonesia, yang di ambil dari hari terbentuknya organisasi Boedi Oetomo, 20 Mei 1908. Penentuan Harkitnas sendiri dilakukan pada masa Kabinet Hatta (1948-1949 M). Ketika itu Kabinet Hatta sedang mendapatkan serangan balik dari pelaku Koedeta 3 Juli 1946, yakni Tan Malaka dan M. Yamin dalam pembalaannya di Pengadilan Negeri, yang dinilai oleh Kabinet Hatta dapat menumbuhkan perpecahan bangsa yang sedang menghadapi Perang Kemerdekaan (1945-1950 M). Oleh karena itu, dirasa perlu oleh Kabinet Hatta membangkitkan kembali kesadaran nasional melawan penjajah, maka dipilihlah 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional yang merupakan tanggal berdirinya Boedi Oetomo.
Dan kemudian berkembanglah cerita-cerita sejarah yang tertulis dalam buku-buku sejarah di sekolah-sekolah, bahwa Boedi Oetomo merupakan organisasi pertama yang didirikan oleh bangsa Indonesia yang merupakan tonggak dari bangkitnya kesadaran nasional untuk melawan penjajah. Namun, pada kenyataannya, organisasi Boedi Oetomo adalah organisasi yang tidak dapat dibilang representasi bangsa Indonesia secara umum, karena keanggotaan Boedi Oetomo bersifat eksklusif, hanya beranggotakan bangsawan-bangsawan Jawa.
Pada Algemene Vergadering (Rapat Umum) Boedi Oetomo di Bandung, 1915 M, sikap Djawanisme Boedi Oetomo semakin dipertegas. Hal ini dikarenakan Hoofdbestuur (Ketua) terpilih, R. Sastrowidjono, meminta para hadirin menyerukan: Leve pulau Djawa, Leve bangsa Djawa, Leve Boedi Oetomo (Hidup pulau Jawa, Hidup bangsa Jawa, Hidup Boedi Oetomo). Bahkan pada Kongres Boedi Oetomo di Surakarta (6-9 April 1928), memutuskan bahwa Boedi Oetomo menolak cita-cita persatuan Indonesia (Mr. A. K. Pringgodigdo, 1960, Sedjarah Pergerakan Rakjat Indonesia).
Sementara itu beberapa tahun sebelum Boedi Oetomo berdiri, H. Samanhoedi membentuk organisasi Sjarikat Dagang Islam, yaitu pada tanggal 16 Oktober 1905. Pembentukan organisasi tersebut merupakan respon menghadapi tantangan imperialisme modern. Organisasi ini tidak bersifat kooperatif dengan pemerintahan kolonial. Kemudian pada tahun 1906, H. Samanhoedi mendirikan Sjarikat Islam. Namun banyak sejarawan yang menuliskan bahwa SI didirikan pada 10 September 1912, yaitu pada saat memperoleh badan hukum di bawah pimpinan Oemar Said Tjokroaminoto.
Pada tanggal 17-24 Juni 1916, Sjarikat Islam mengadakan National Congres Centraal Sjarikat Islam Pertama (1e Natico). Kongres tersebut menghasilkan keputusan menuntut Indonesia merdeka dengan istilah Pemerintahan Sendiri (Zelf Bestuur). Bandingkan dengan keputusan Boedi Oetomo pada Kongresnya di tahun 1928 di atas. Pada National Congres Centraal Sjarikat Islam Keempat (4e Natico) di Surababaya, 1919, anggota yang hadir sebanyak 2,5 Juta orang. Di umurnya yang ke7 setelah memperoleh badan hukum, SI benar-benar telah membangkitkan kesadaran nasional untuk menghadapi penjajahan kolonial Belanda. Pengaruhnya meluas tak hanya sebatas Pulau Jawa saja.
Nah, selesei dulu cerita-ceritanya. Sekarang berkaca dari realita sejarah di atas, pantaskah kelahiran Boedi Oetomo dijadikan suatu momentum kebangkitan nasional? Selain itu, sepak terjang SI pun tampak tak begitu dominan dalam cerita-cerita di buku sejarah sekolah-sekolah. Mengapa? apakah karena SI yang sedari awal terbentuk sudah anti kolonial? atau karena yang menggerakkan kesadaran nasional itu adalah ulama-ulama di SI? Begitulah sejarah, ia diceritakan sesuai dengan si empunya kuasa. Digunakan untuk membentuk opini secara massal. Maka pantaslah hingga saat ini perjuangan para ulama-ulama dalam menegakkan kedaulatan NKRI tidak begitu terdengar, karena memang begitu inginnya.
Kembali lagi ke kebangkitan, bukannya mau mempersalahkan ataupun menuntut untuk di ganti tanggal perayaannya, tapi adalah baik jika kita mengkaji lagi sejarah yang ada. Membaca sejarah secara utuh, untuk kemudian kita ambil pelajaran darinya. Bahwa sedari dahulu campur tangan asing selalu saja ada demi keuntungan mereka dan penguasa saja. Bahwa penguasa dapat membentuk opini massal dan dapat membuat biasnya informasi yang dapat di terima masyarakat. Dan pelajaran-pelajaran lainnya.
Mungkin kalian lebih tau bagaimana caranya agar Indonesia dapat terus bangkit, mungkin kalian juga sudah sering berkontribusi bagi negara ini dibandingkan dengan gw. Dan semoga kebangkitan Indonesia tak hanya berujung pada orasi, tulisan, ataupun pidato-pidato di hari kebangkitan nasional ini, namun juga benar-benar dapat menjadikan Indonesia ini berkeadilan. Ya, bangkitlah negeriku, harapan itu masih ada!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar