Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label sejarah

[Book Summary: The Third World in Perspective] Chapter 1: This Changing World

Since 1945, views concerning the problems of development and underdevelopment have undergone numerous and sometimes drastic changes. Such changes occurred both in developed and underdeveloped countries. The primary purposes of this chapter is to describe and explain these changes, especially those that have taken place in the economically advanced societies. The problem is that at particular points in time views on development and underdevelopment have not always been the same in all industrialized countries. Europeans are more aware of the great disparities in today’s troubled world and appear better informed about the causes of underdevelopment. The period 1945-1985 is divided into four ten-year periods. This periodization is an arbitrary one and that there are no well-defined “boundaries” separating one period from another. I.        1945-1955: Period of Western Disconcern In this period, developed countries were not interested yet with the prob...

(Review) Max Havelaar; Cerita Kejamnya Kolonial

Yak, akhirnyaaa, setelah berbulan-bulan selesai juga gw baca buku Max Havelaar. Dan mau cerita sedikit deh tentang buku itu. " Kisah yang 'membunuh' kolonialisme. "-- --Pramoedya Ananta Toer ( New York Times, 1999) Buku Max Havelaar dikarang oleh Multatuli, atau lebih kita kenal dengan nama Eduard Douwes Dekker (1820-1887). Douwes Dekker ini petama gw kenal ya di buku sejarah jaman SMP dulu, yang bikin Indische Partij, bareng sama Tjipto Magunkusumo dan Ki Hajar Dewantara (oke dua nama ini gw googling dulu, lupa broo :v). Nah Douwes Dekker yang bikin Indische Partij ini beda dengan Douwes Dekker Multatuli. Ini juga gw baru tau. Jadi si Multatuli ini dia mengabdi sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda selama 18 tahun. Sebelum masuk ke isi buku, tak tulis dulu deh apa yang ada di sampul belakang buku, semacam ringkasan dari penerbitnya. Max Havelaar, ditulis oleh Eduard Douwes Dekker, mantan Asisten Lebak, Banten, pada abad ke-19. Douwes Dekker terusik...

Belajar dari Sejarah?

Jadi ceritanya gw baru selesai baca buku Api Sejarah yang pertama, bukunya Ahmad Mansur Suryanegara. Dan kebetulan bertepatan juga dengan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, jadilah gw mau soksokan bikin tulisan. Hhe. Dulu waktu di SMA, guru sejarah gw mengenalkan sebuah frase yang diungkapkan oleh Cicero, Historia Vitae Magistra . Artinya adalah Hidup Guru Sejarah!! eh salah, artinya adalah Sejarah Guru Hidup . Nah, Kita percaya bahwa dari sejarah kita dapat belajar, dari kejadian-kejadian masa lalu kita dapat mengambil ibrahnya yang kemudian menjadi pertimbangan kita untuk menjalani masa depan. Penulisan sejarah sendiri bergantung dari siapa yang berkuasa. Ketika Indonesia masih diduduki oleh Kolonial Belanda, maka jelas, penulisan sejarah Indonesia saat itu bergantung pemerintah Kolonial Belanda. Jelas, penulisan sejarah yang sangat diutamakan adalah dengan membentuk opini yang baik terhadap mereka pribumi yang kooperatif dengan pemerintahan Kolonial Belanda. Begitupun dengan pene...

mereka

aku bukan sukarno yang memiliki citacita tinggi untuk indonesia aku bukan ahmadinejad yang berani menentang negara yang lebih besar aku bukan nelson mandela yang mampu memenangkan kaum minoritas aku bukan syeikh ahmad yassin yang mampu memimpin walau duduk di kursi roda aku bukan hasan al-banna yang mampu memimpin pergerakan da'wah aku bukan umar bin khattab yang ditakuti oleh musuhnya aku bukan abu bakar yang memiliki wibawa di mata rakyatnya ya, mereka memang tokoh yang luar biasa dimata rakyat mereka. semoga aku pun kelak bisa menjadi seperti mereka. setidaknya untuk memimpin keluarga. hhe